BETANEWS.ID, JEPARA – Memeden Gadhu atau dalam arti Bahasa Indonesia orang-orangan sawah biasa dijadikan oleh para petani untuk menakuti hama yang sering menyerang tanaman mereka. Kondisi tersebut kemudian dijadikan sebuah ide oleh para pemuda di Dukuh Karang Sari, Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara untuk membuat Festival Memeden Gadhu.
Menjadi desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani serta tidak memiliki ikon yang bisa dijadikan sebagai tempat wisata, para pemuda yang kemudian tergabung dalam Gamapetra (Gabungan Masyarakat Peduli Tradisi dan Budaya) mengembangkan Festival Memeden Gadhu.
Festival Memeden Gadhu pertama kali diadakan pada tahun 2009. Setiap tahun, festival yang terselenggara dari hasil gotong royong masyarakat setempat tersebut selalu menghadirkan hal baru.
Baca juga: Tumpah Ruah, Masyarakat Desa Sirodadi Sayung Rebutan Hasil Bumi Saat Tradisi Apitan
Pada tahun kemarin karena masih berada di situasi pandemi, Festival Memeden Gadhu hanya di isi dengan arak-arakan Memeden Gadhu dan Manganan (tradisi makan bersama di makam mbah boleh seusai melakukan ziarah).
Di tahun ini Memeden Gadhu dikemas dengan meriah yang berlangsung mulai dari hari Jumat – Senin, (2-5/6/2023). Beragam rangkaian acara menarik juga sudah disiapkan mulai dari Pertunjukan tari kolosal, Safari ketapel, Lomba mewarnai dan menggambar, Performance Art “Ritus Wiwit”, Pentas seni dan wayang, Festival Layang-layang, Ketapel Anak, serta Kirab budaya.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Kabupaten Jepara, Ida Lestari yang membuka festival tersebut mengaku bangga kepada masyarakat karena setiap tahunnya selalu terjadi inovasi dan kejutan berupa hal-hal baru.
“Saya sangat mengapresiasi kerja keras para masyarakat Desa Kepuk apalagi dengan berdirinya panggung yang megah dengan ikon burung hantu,” katanya pada Jumat malam (2/6/2023).
Baca juga: Warga Rela Antre untuk Dapatkan Nasi Berkat di Petilasan Eyang Sukmoyono
Pembukaan acara festival juga ditandai dengan penyerahan burung hantu dari Ida Lestari kepada Kepala Desa Kepuk, Sawi. Ida menjelaskan bahwa burung hantu tersebut juga sebagai simbol untuk membantu petani mengusir hama.
“Simbol burung hantu yang terpampang besar di panggung ini harapannya juga bisa membantu para petani mengusir hama yang ada di ladang sehingga pada panen mendatang hasilnya bisa melimpah, ” ujarnya.
Editor: Suwoko

