BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang ayah di Kabupaten Pati yang tega membunuh anak balitanya (bawah lima tahun) membuat geger. Pengamat Sosial pun menyebut, sadisnya pembunuhan itu bisa jadi pelaku mengalami kegilaan sesaat ketika menghabisi darah dagingnya sendiri.
Pemerhati sosial dari Fakultas Psikologi Univeristas Muria Kudus (UMK), Mochamad Widjanarko mengatakan, di usia pelaku yang masih 20 tahun atau remaja, pemikiran seseorang itu masih labil, apalagi sudah punya beban dua anak. Sehingga, ketika ada permasalahan, mereka cenderung tak bisa berpikir secara rasional.
“Bahkan menurut saya, pelaku itu mengalami kegilaan sesaat, hingga tega membunuh anak kandungnya,” ujarnya saat ditemui di UMK, Kamis (4/5/2023).
Baca juga: Fakta Baru Ayah Bunuh Bayi di Pati, Pelaku Ternyata Sudah Niat Buang Bayinya Sejak Sebulan Lalu
Dia mengira, pada saat membunuh anaknya sebenarnya pelaku berkonflik dengan nuraninya. Namun, karena masih remaja dan pemikirannya masih labil, sehingga tak bisa mengontrol dirinya.
“Di situ konsep diri pelaku benar-benar berantakan. Sehingga pelaku pun tega membunuh anaknya. Melanggar hukum, melanggar norma-norma sosial yang ada,” bebernya.
Dari kajian sosial, Widjanarko melihat, ada relasi yang terputus antara pelaku, istri maupun orang tuanya. Apalagi, jika pelaku dan istrinya masih tinggal bersama dengan orang tua.
“Rumah tangga yang masih tinggal bersama dengan orang tua memang rawan sekali konflik. Apalagi jika pihak orang tua ikut campur dalam rumah tangga sang anak. Sehingga ketika ada relasi yang terputus itu akan menambah beban bagi rumah tangga sang anak,” jelasnya.
Namun, kata Widjanarko, yang perlu dicermati apakah konflik itu bisa jadi pemicu tindak kriminal atau tidak, sebab itu dua hal yang berbeda.
“Karena, menurut saya, jika seseorang melakukan aktivitas yang sifatnya kriminal maka akan menjadi tanggung jawab psikologis dari sang pelaku terhadap perilakunya,” ungkapnya.
Sementara dari teori psikologi, jelasnya, pelaku melakukan kejahatan itu pasti ada stimulusnya atau trigger. Apakah selama ini pelaku ada tuntutan secara ekonomi atau ada konflik dalam dirinya yang tak bisa dikontrolnya.
“Atau mungkin ada pengaruh dari luar. Misal pelaku mengakses media sosial, menonton sesuatu sehingga pikirannya berimajinasi ke mana-mana. Itulah yang saya analisis menjadi bagian respon kegilaan sesaat,” tegas Widjanarko.
Dia menuturkan, faktor ekonomi juga berpengaruh pada psikis pelaku. Di usia yang masih 20 tahun dan sudah punya dua anak, sementara yang bekerja mencari uang adalah istrinya.
Sementara pelaku kebagian mengasuh anak, itu tentu akan jadi beban tersendiri bagi seorang pria, termasuk pelaku. Namun, sebenarnya itu bukan utama, sebab dalam rumah tangga itu kan ada komunikasi dan kesepakatan.
“Kecuali, kalau tidak ada kesepakatan itu bisa jadi beban bagi pelaku. Hingga kemudian tega membunuh anaknya ketika ada tekanan hidup. Apalagi terkadang masyarakat sekitar, ketika ada pria yang kebagian mengasuh anak itu suka diolok-olok. Padahal, sebenarnya cara berpikir masyarakat itu yang salah,” imbuhnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

