BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria paruh baya tampak sedang melayani beberapa orang yang menukarkan uang di lapaknya yang berada di sekitar Alun-alun Simpang 7 Kudus. Setelah beberapa orang itu pergi, pria bernama Suwarno (59) itu kemudian menata dan menambah beberapa pecahan uang yang sudah laku oleh pelanggannya.
Saat ditemui, Suwarno mengaku jika pekerjaan sehari-harinya adalah pedagang warung makan dan mempunyai sebuah toko yang menjual veleg mobil. Pada momen Ramadan, dirinya beserta istri memanfaatkannya dengan menjadi penyedia jasa penukaran uang baru untuk momen Lebaran.
Hal itu dipilihnya karena hasil pendapatan dari jasa penukaran uang baru sangat lumayan, sehingga setiap tahun, mereka selalu merantau ke Kudus.
Baca juga: Jasa Penukaran Uang Receh Baru di Kudus Mulai Marak
“Pertama karena kebutuhan, keduanya hasilnya lumayan, dan buat tambahan untuk Lebaran juga. Kalau di Kudus ini saya sudah ke 15 kali, jadi setiap momen seperti ini saya ya ke sini. Banyak orang sini juga yang kenal karena sudah lama,” ungkapnya, Senin (3/4/2023).
Menurut Suwarno, momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu karena dalam satu tahun hanya ada satu kali saja. Untuk itu, meski Lebaran masih lama, ia dan istrinya mengawali penukaran uang baru di Kudus, karena komisi untuk saat ini masih rendah. Berbeda dengan saat mendekati Lebaran, komisi akan semakin tinggi.
“Saya sudah satu minggu di sini mas. Alhamdulillah masih ada juga orang yang menukarkan uang walaupun tidak banyak,” ucapnya.
Warga Pedurungan, Semarang itu selalu wara-wiri pulang pergi dari rumahnya hingga di Kudus. Itu ia lakukan karena merasa lokasinya masih dekat. Apalagi, ia juga bersama istri saat menjadi penyedia jasa penukaran uang baru.
Baca juga: Banyak Diburu Saat Ramadan, Penjual Blewah di Tepi Jalan Pantura Trengguli Demak Laris Manis
“Kenapa memilih Kudus, ya karena Kudus memiliki tradisi yang tidak bisa tinggalkan yaitu kunjung saat Lebaran. Jadi saat itu tuan rumah menyediakan uang untuk sanak saudaranya yang datang dan membaginya. Itu menjadi poin plus. Kemudian di Kudus peminatnya bagus, jadi ya setiap tahun saya ke sini,” tuturnya.
Lebih lanjut Suwarno menceritakan, sebelum mengenal pasar di Kudus yang kini menjadi jujugan setiap tahunnya, ia awalnya membuka lapak jasa penukaran uang di Pati. Menurutnya, karena tidak begitu ramai kemudian ia mencoba mencari lokasi lain yaitu di Kudus
“Di sana saya hanya bertahan tiga tahun saja. Karena menurut saya di sana tidak seramai di Kudus. Kemudian tahun berikutnya saya mencoba di sini dan lokasi awal saya itu di area sini, yang waktu itu belum ada sama sekali penukaran uang di Kudus,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

