BETANEWS.ID, JEPARA- Setiap tanggal 10 April diperingati sebagai Hari Lahir Kabupaten Jepara. Tanggal itu bertepatan dengan pengangkatan Ratu Kalinyamat menjadi Ratu atau Pemimpin bagi Kerajaan Kalinyamat. Sampai saat ini masih ditemukan beberapa situs peninggalan kerajaan tersebut, tetapi kondisinya banyak yang tidak terawat bahkan ada yang sudah hilang.
Kepada Betanews.id, Gus Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamat, berbagi cerita tentang situs Kerajaan Kalinyamat. Dia mengatakan, banyak ditemukan beberapa peninggalan kerajaan tersebut. Seperti Watu Gilang, yang diyakini sebagai kepunden atau tempat peristirahatan Ratu Kalinyamat.
Selain itu, kata dia, ada juga artefak yang memiliki simbol tulisan Muhammad yang saling berhadap-hadapan. Diperkirakan artefak tersebut dibuat sekitar abad 16-17. Namun sayangnya benda tersebut kini dimiliki oleh kalangan pribadi.
Baca juga: Sejarah Masjid Al-Makmur Desa Kriyan, Dibangun di Atas Keputren Ratu Kalinyamat
Ia menambahkan, pernah juga ditemukan benteng dari Kerajaan Kalinyamat yang berada di Dukuh Kuto Bedah, Desa Robayan. Tetapi nasibnya tidak jauh berbeda. Benda-benda tersebut kini sudah hilang dan tidak diketahui jejaknya.
Selain benda-benda tersebut terdapat juga peninggalan berupa bangunan Masjid Al-Makmur. Namun bentuk masjid tersebut saat ini sudah banyak mengalami pemugaran sebanyak lima kali. Saat ini di masjid tersebut terdapat benda-benda yang masih dipertahankan, yaitu limasan yang berada di atap masjid.
Berdasarkan dokumentasi, desain masjid tersebut juga memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Demak berupa atap berundak yang menjadi ciri khas dari bangunan Jawa kuno.
“Yang saya sayangkan mengapa Dinas Kebudayaan atau arkeolog tidak mengamankan itu. Seperti Masjid Kriyan itu kan seharusnya menjadi masjid cagar budaya tapi seakan tidak mau tau sehingga banyak barang yang hilang,” katanya, Kamis (23/03/2023).
Hal yang turut ia sayangkan, beberapa barang peninggalan dari masjid tersebut berupa kentongan, lukisan kaligrafi yang sudah berumur ratusan tahun, empat pilar atau saka masjid, saat ini sudah banyak yang berpindah tangan menjadi milik pribadi.
“Kami berharap didirikan cagar budaya atau semacam museum lah untuk mengumpulkan barang-barang tersebut untuk bisa jadi edukasi,” imbuhnya.
Baca juga: Tirta Kahuripan, Situs Peninggalan Ratu Kalinyamat yang Manfaatnya Terus Mengalir hingga Kini
Hal senada juga turut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kalinyamatan, M Hisyam Maliki, yang sempat marah ketika benda-benda peninggalan dari masjid tersebut dihibahkan kepada orang pribadi. Tetapi ia menyadari pendirian cagar budaya tersebut memang tidak mudah. Sebab dibutuhkan perhatian dari banyak pihak yang juga menyangkut soal administrasi dan ilmu pengetahuan.
“Yang masih bisa dijaga mari kita jaga. Tapi yang tidak bisa saya malah cenderung untuk mendokumentasikan secara online atau dicetak. Karena sekarang kan sudah ada museum digital seperti Museum Indonesia,” katanya.
Editor: Suwoko

