Petani ‘Babak Belur’, Tanaman Padi Terendam Banjir dan Harga Gabah Anjlok

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua orang pria terlihat memanen padi yang terendam banjir di area perswahan Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Mereka tampak memotong padi yang sudah menguning dan hampir sepenuhnya tertutup air banjir.

Potongan-potongan tangkai padi tersebut ditaruh di plastik besar yang dibentuknya perahu. Setelah tangkai padi memenuhi plastik tersebut, kemudian dengan membelah banjir ditariknya tangkai padi itu ke daratan.

Di daratan atau tepatnya di atas jalan beton yang biasa digunakan akses para petani ke sawah, tampak petani lainya sedang memukul-mukul tangkai padi yang sudah dipotong. Tujuannya untuk memisahkan padi dari tangkainya.

-Advertisement-
Petani memanen padi yang terendam banjir. Foto: Rabu Sipan.

Baca juga: Ribuan Hektare Lahan Padi di Kudus Terendam Banjir, Kerugian Ditaksir Capai Rp50 Miliar

Setelah padi terlepas dari tangkai, kemudian buliran padi dijemur. Sembari disilir untuk memisahkan antara padi yang berisi dan yang gabuk atau kosong. Terlihat warna padi kuningnya agak kusam dan tak secerah ketika tak terendam banjir.

Petani tersebut bernama Nur Kholis (40). Dia mengatakan, tanaman padinya sudah terendam banjir selama tiga pekan. Karena sudah menguning, sehingga padi harus dipanen meski terendam banjir.

“Karena kebanjiran, padi yang sudah menguning terpaksa kita panen manual. Karena hasilnya tidak sesuai jika menggunakan kuli,” ujar Nur Kholis kepada Betanews.id, Jumat (3/3/2023).

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Wates, Kecamatan Undaan tersebut mengaku sudah belasan tahun bertani. Musim tanam ini ia menanam padi di lahan seluas empat bau. Namun nahasnya, semuanya terendam banjir.

“Karena terendam banjir hasil panennya pun tak sesuai. Jika tak ada banjir dan hama, satu bau bisa menghasilkan lima ton gabah,” beber ayah satu anak tersebut.

Namun karena banjir, kata dia, satu bau paling menghasilkan empat kuintal padi. Jadi empat bau yang seharunya bisa menghasilkan gabah 20 ton, sekarang paling hanya 1,6 ton saja.

Tak hanya hasilnya, banjir juga menjadikan harga gabah anjlok. Sebelum banjir, harga gabah Rp 500 ribu per kuintal. Karena terkena banjir, kualitas gabah pun jelek dan harganya turun drastis jadi Rp 250 ribu per kuintal.

Baca juga: 400 Hektare Sawah Kebanjiran di Karangrowo Kudus Alami Puso, Kerugian Ditaksir Capai Rp8 Miliar

“Terkadang, kalau gabahnya terlalu jelek karena terlalu lama terendam banjir malah tidak laku. Tidak ada tengkulak yang mau beli gabah terendam banjir. Gabah saya ini juga kurang bagus karena banjir,” ungkapnya.

Banjir yang terjadi mengakibatkan ia dan petani yang lain merugi. Jangankan untung, hasil panen yang didapatkan tak bisa menutup biaya tanam, kuli, pestisida dan pupuk.

“Kalau rugi jelas ini. Jangankan berharap satu bau menghasilkan uang Rp 25 juta. Untuk mengganti biaya tanam saja masih kurang,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER