BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat menjalankan perahu kayu bercat hijau membelah banjir di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Perahu yang baru ia buat saat desanya terendam banjir itu merupakan alat transportasi yang sering hilir mudik mengantarkan warga beraktivitas.
Bagi pria bernama Muhammad Muhlis itu, perahu itu merupakan salah satu jalan untuk membantu para tetangganya menerjang banjir. Apalagi, banjir di kampung halamannya itu selalu berlangsung lama dalam setiap tahunnya.
“Tahun baru kami sambut dengan musibah banjir. Sebab banjir ini sudah sejak Bulan November tahun 2022, Januari 2023 itu tinggi-tingginya,” ujar Muhlis kepada Betanews.id, Selasa (28/2/2023).
Baca juga: Banjir Terus Terjadi, Warga Tanggulangin: ‘Dari Dulu Seolah Tak Ada Solusi’
Keresahan itulah yang melatarbelakangi pria berprofesi tukang kayu itu akhirnya membuat perahu pada awal Januari 2023.
“Jika banjir rumah saya juga tergenang. Saya juga tidak bisa bekerja. Makanya saya manfaatkan perahu ini untuk bantu tetangga keluar masuk kampung agar tidak jalan kaki menerjang banjir dan basah bajunya,” bebernya.
Menurut dua, perahu tersebut terbuat dari kayu mahoni. Setiap sambungan kayu diberi lem po agar tidak bocor. Ia juga tak menggunakan paku tapi tiap rangkaian kayu ia memilih menggunakan baut.
“Untuk panjang perahu sekitar empat meter, lebarnya satu meter. Catnya saya menggunakan khusus untuk anti bocor juga. Sedangkan biaya pembuatannya kurang lebih Rp700 ribu,” ungkap Muhlis.
Muhlis mengerjakan perahu itu selama empat hari. Sementara untuk mesin pendorong, dia beli dengan harga kurang lebih Rp2 juta.
Baca juga: Nelangsanya Juriyah, 2 Bulan Ngungsi dan Jualan Keliling di Tengah Banjir untuk Cukupi Kebutuhan
“Mesin ini belum standart sebenarnya. Bahan bakar menggunakan bensin. Meski begitu perahu ini mampu mengangkut 10 orang,” terangnya.
Dia berharap, pemerintah punya solusi untuk menangani banjir di Desa Jati Wetan, khususnya Dukuh Tanggulangin, Gendok, dan Barisan, karena jadi langganan banjir.
“Kami berharap dibuatkan semacam embung agar banjir itu masuk embung dan tak menggenangi permukiman. Serta pompa polder itu kapasitasnya ditambah agar bisa cepat menyedot banjir,” harap Muhlis.
Editor: Ahmad Muhlisin

