BETANEWS.ID, DEMAK – Rumah yang berada di Desa Krapyak RT 5 RW 11, Kecamatan/Kabupaten Demak, terlihat aktivis pembuatan Jamu Bubur Coro. Kuliner jadul itu, memang terkenal, bahkan sejak zaman Kesultanan Demak Bintoro.
Salah seorang yang masih aktif membuat Jamu Bubur Coro, yakni Sri Puji Utami (41). Ia sudah membuat kuliner jadul itu sejak 20 tahun lalu. Setiap harinya ia mangkal di Jalan Bhayangkara Perempatan Kali Tuntang, mulai pukul 15.00-17.30 WIB.

Baca juga: Wedang Coro, Minuman Tradisional yang Masih Eksis dan Diminati hingga Kini
“Resep ini saya dapat ya dari ibu saya, hitungannya ini sudah tiga generasi dari nenek saya. Zaman dulu sudah ada Jamu Bubur Coro,” katanya pada Betanews. id, Selasa (21/2/2023).
Sebelum suaminya meninggal, Sri sudah membantu dalam proses pembuatan Jamu Bubur Coro. Terdapat 15 racikan jamu dari bahan rempah-rempah pilihan, di antaranya akar wangi, sereh, jahe emprit, kayu manis, cabe kuyang, air pandan, dan lain-lain.
“Cara membuatnya itu, pertama kita buat bubur sumsum dulu. Setelah itu buat kuahnya dari bubuk jamu yang sudah digiling dan diaduk hingga matang. Nanti pas penyajian ditambahi lada,” terangnya.
Membuat Jamu Bubur Coro, menurutnya bukan tanpa alasan. Sri menerangkan, ia ingin minuman tradisional khas Demak ini tetap ada dan lestari. Sehingga tidak hanya generasi tua saja yang mengetahui sejarah minuman Jamu Bubur Coro, memainkan hingga generasi seterusnya.
“Eman-eman sekali kalau punah, karena minuman ini sangat bermanfaat sekali untuk kesehatan. Apalagi baik untuk meningkatkan imunitas tubuh,” jelasnya.
Baca juga: Jamu Coro, Minuman Khas Demak Ini Laris Manis Saat Pandemi
Berkat usahanya itu, Jamu Bubur Coro buatan Sri tidak pernah sepi dari pembeli. Menjual dengan harga Rp 3 ribu per porsi, dalam sehari ia bisa menghabiskan lebih dari 400 mangkok.
“Alhamdulillah setiap hari selalu habis, karena minuman ini kan tidak mengenal musim. Jadi kalau ada yang capek langsung saja menikmati Jamu Bubur Coro. Setiap Jumat kita bahkan sering kirim ratusan porsi ke Polda Jateng, ” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

