BETANEWS.ID, KUDUS – Pasangan pengantin di Kabupaten Kudus harus menaiki perahu menerjang banjir untuk bisa duduk di pelaminan. Sebab, akses jalan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu tempat gelaran pernikahan kedua mempelai masih terisolasi banjir dengan kedalaman sekitar setengah meter.
Terlihat, di tepi Jalan Lingkar Barat Kudus Desa Setrokalangan, belasan orang menunggu perahu angkut. Di antara mereka, tampak dua mempelai lengkap dengan riasan dan pakaian pengantin.
Setelah perahu bersandar, kedua mempelai pria naik ke badan perahu dengan menggandeng pengantin perempuan. Setelah itu, para pengiring satu-persatu ikut menaiki perahu. Usai dirasa cukup, perahu pun secara perlahan berjalan dengan pendorong mesin pemotong rumput.

Baca juga: Sebelum Akad Nikah, Pengantin di Banyumas Ini Nyanyikan Lagu Indonesia Raya
Sekitar 10 menit naik perahu menerjang banjir, kemudian perjalanan pun dilanjut naik mobil bak terbuka hingga rumah mempelai pria yang dijadikan tempat pelaminan. Meski harus menyeberangi banjir dengan perahu, raut bahagia tetap terpancar di wajah kedua mempelai.
Sepasang pengantin tersebut diketahui bernama Angga Pratama (19) warga Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan dan Putri Endang Sri Rejeki (22) warga Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Setelah sampai, mereka pun bergegas duduk di pelaminan.
Pengantin pria, Angga Pratama mengatakan, tak menyangka pernikahannya akan terjadi banjir. Sebab penentuan hari sakral tersebut sudah ditentukan oleh kedua pihak keluarga tiga bulan sebelumnya.
“Tidak menyangka kalau banjir. Meski begitu kami tetap bersyukur bisa menggelar acara pernikahan meski banjir mengisolasi kampung tempat pelaminan kami,” ujar Angga kepada awak media ketika ditemui di sela-sela acara pernikahannya, Kamis (12/1/2023).
Sementara itu, ayah Angga yakni Sarjoko mengaku, bahwa penentuan hari pernikahan anaknya telah dilakukan tiga bulan sebelumnya. Sehingga ia dan keluarga tak menyangka di hari bahagia putra ketiganya itu dukuhnya terisolasi karena banjir.
“Kami tidak mengira sebelumnya, banjir akan terjadi di hari pernikahan anak kami. Kami menentukan tanggalnya kan tiga bulan sebelum hari pernikahan,” ujar Sarjoko.
Baca juga: Pengantin Mubeng Gapura Masjid Wali, Tradisi Unik yang Masih Lestari di Kudus
Karena banjir masih mengisolasi kampungnya. Maka, kedua mempelai tadi datangnya menggunakan perahu. Tamu-tamu yang dari desa atau daerah lain yang akan datang juga akan naik perahu yang disediakan.
“Untungnya ada perahu. Sehingga tamu undangan nantinya tetap bisa hadir dengan naik perahu, gratis,” ungkap ayah tiga anak tersebut.
Meski digelar di tengah bencana banjir, Sarjoko berharap pernikahan anaknya bisa langgeng dan bahagia. Serta segera diberi momongan.
“Kami sudah tiga kali menyelenggarakan hajatan dan ini pas terjadi banjir dan mengisolasi kampung. Semoga, acara berjalan lancar serta pernikahan anak kami langgeng dan bahagia,” harapnya.
Editor: Kholistiono

