BETANEWS.ID, SEMARANG – Setelah resmi pindah ke Pasar Klitikan Penggaron, sampai sekarang Pasar Relokasi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) masih buka. Hal inilah yang memantik para pedagang meminta Pemerintah Kota Semarang untuk menutup pasar tersebut.
Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Rayon Pasar Grosir Buah Klitikan Nurkholis mengatakan, jika Pasar MAJT tetap beroperasi, akan ada kemungkinan merugikan pedagang yang sudah bersedia pindah karena akan menjadi pasar tandingan. Sehingga, dikhawatirkan akan ada banyak pedagang yang kembali ke MAJT dan Pasar Klitikan menjadi sepi.

“Kalau pedagang kembali ke MAJT, sini jadi kosong dan mangkrak kan akhirnya yang rugi pemerintah, karena PADnya tidak bisa masuk. Padahal di sini kita kan membayar dan uangnya masuk ke pemerintah,” katanya saat ditemui, Kamis (06/10/22).
Baca juga: Relokasi Pedagang Buah MAJT ke Pasar Klitikan Penggaron Diundur 24 September
Dengan beroperasinya Pasar Relokasi MAJT, dinilai sebagai kebijakan yang kurang tepat. Pihaknya juga mengaku sudah beberapa kali menyampaikan kepada pemerintah untuk menutupnya.
“Sebelumnya sudah disampaikan, menurut saya ini keputusan yang kurang bijak baik dari pemerintah, Dinas Perdagangan, Satpol PP, Pak Wali dan Pak Sekda mereka mendengar aspirasi kita, dan mereka mempunyai tanggapan masing-masing ya,” katanya.
Baca juga: Tegakkan Aturan Larangan Beri Uang ke Pengemis dan Gelandangan, Satpol PP Gencarkan Razia
Sehingga ia pun berharap, Pemerintah segera mengambil tindakan tegas untuk menutup Pasar Relokasi MAJT. Berdasarkan kesepakatan sebelumnya, bagi pedagang yang sudah pindah ke Pasar Klitikan tidak diperbolehkan untuk membuka lapaknya di Pasar MAJT. Namun, hingga saat ini masih dijumpai pedagang yang berjualan di dua tempat.
“Solusinya ya cuma satu, yang disana (MAJT) ditutup. Harapannya pemerintah punya kebijakan yang lebih baik. Ini kita masih koordinasi terus dengan dinas terkait,” tandas Kholis.
Editor: Ahmad Muhlisin

