BETANEWS.ID, MAGELANG – Tren konsumsi jamur pangan semakin meningkat di kalangan masyarakat. Hal ini dikarenakan jamur memiliki rasa yang enak, tinggi protein, bebas lemak, rendah kalori, dan bebas kolesterol. Selain itu, budidaya jamur pangan, terutama jamur tiram sangat mudah, hanya dengan memanfaatkan media tanam serbuk gergaji yang didapat dari limbah tukang kayu.
Budidaya jamur bisa sangat menguntungkan jika dikelola dengan tepat. Untuk budidaya jamur itu sendiri tidak membutuhkan modal yang cukup banyak dan mudah dipelajari. Sedangkan untuk pemasaran, saat ini terbilang mudah, karena jamur menjadi salah satu komoditi yang banyak dicari para ibu rumah tangga.

Baca juga:Sulit Cari Kerja Karena Buta Warna, Puput Pantang Menyerah dan Kini Sukses dengan Budidaya Jamur
Salah satu pembudidaya jamur asal Dusun Clapar, Kecamatan Muntilan, Magelang, Zainuddin Basyar menjelaskan, untuk pemasaran jamur, biasanya ia cukup dititipkan pada tukang sayur. Itu saah satu cara termudan untuk pemasaran jamur. Namun jika memiliki akses atau relasi, menurutnya akan lebih bagus lagi kalau dipasarkan kepada para pengusaha olahan jamur.
Pensiunan guru yang sekarang menjadi pembudidaya jamur itu menjelaskan, budidaya jamur sangat menguntungkan. Hanya butuh kesabaran dan ketelitian dalam budidaya.
“Sangat menguntungkan. Sebagai contoh, satu media tanam ini hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 2.500. Satu media, sekali panen minimal 2 ons sampai 5 ons atau setengah kilogram. Saat ini harga jamur pe satu kilogram Rp 10 ribu, dan satu media bisa panen sampai sembilan kali,” jelas Zainudin.
Saat ini, Zainudin Basyar memiliki ribuan media tanam atau baglog untuk budidaya jamur ini. Dengan keuntungan yang menjanjikan, maka ia juga berharap masyarakat bisa mengikuti jejaknya untuk budidaya jamur supaya menambah perekonomian.
“Saya ingin sekali bisa memancing masyarakat untuk kreatif, saah satu contoh bisa meniru. Budidaya sedikit atau banyak menguntungkan, asal telaten tidak menyerah. Kalau sudah tahu perputaran siklus enak,” jelas Zainudin.
Baca juga: Sempat Diremehkan, Budi Daya Jamur Tiram Ali Mustofa Kini Siap Ekspor ke China dan Korea
Ia menceritakan, pada awal mula budidaya jamur memang membutuhkan adaptasi. Namun jika sudah mengetahui siklus budidaya jamur, akan sangat mudah dimengerti.
“Awalnya saya dulu juga begitu, harus adaptasi terlebih dahulu. Adaptasi yang paling diperlukan itu suhu dan kelembaban yang harus tetap dingin. Cara mengakali ya dengan disemprot dengan air dua kali sehari, itu sudah cukup,” ujarnya.
Editor : Kholistiono

