BETANEWS, KUDUS – Beberapa pengunjung terlihat sedang memetik buah melon di Muria farm yang berada di Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kebupaten Kudus. Sambil memetik buah berwarna hijau itu, mereka terlihat dijelaskan oleh seorang pria yang menemani.
Di musim panen seperti Agustus ini, Muria Farm memang sering membuka wisata petik melon yang menarik minat banyak pengunjung. Untuk masuk ke green house tempat melon dibudidayakan, masyarakat tak perlu membayar. Baru ketika mereka ingin membawa pulang, pengelola akan mematok harga Rp40 ribu per kilogram.

Menurut Pemilik Muria Farm Deni Saputra (31), agro wisata edukasi ini sengaja dibuka untuk mengenalkan masyarakat tentang metode penanaman hidroponik. Setiap panen melon, pihaknya akan membuka kunjungan untuk masyarakat umum.
Baca juga: Kafe Berpijar, Tempat Kulineran Baru di Pijar Park yang Hits Banget
“Memang kita konsep dari awal pembuatan hidroponik untuk wisata edukasi, baik yang salada dan melon. Setiap bulannya pasti ada anak-anak dari TK SD datang ke sini,” katanya pada betanews.id, Jumat (12/8/2022).
Selain bisa petik melon atau selada, pengunjung juga akan diajarkan dasar-dasar penanaman hidroponik mulai dari penyemaian hingga perawatan. Tidak hanya itu, ia juga membuka pelatihan khusus bagi masyarakat yang minat mengenai usaha ini.
“Untuk pengunjung kita kenakan Rp10 ribu per orang untuk sayuran salada, sedangkan yang melon tidak dipungut biaya tapi biasanya ada yang beli buahnya, per kilogram Rp40 ribu,” imbuhnya.
Berbeda dengan hasil penanaman menggunakan tanah, Deni menerangkan melon yang tumbuh dengan cara hidroponik memiliki rasa yang lebih manis dan segar. Hal itu dipengaruhi dengan nutrisi dalam air dan pupuk yang digunakan.
“Melon dari hasil hidroponik itu rasanya lebih manis dan lebih segar. Selain itu perawatannya lebih mudah daripada tanah karena kami menggunakan green house. Jadi hama tidak bisa masuk,” terangnya.
Baca juga: Menikmati Keindahan Panorama Bendungan Logung dengan Perahu Wisata
Di sana, Deni membudidayakan lima jenis melon, yaitu kimochi, kitano, dimenson, tonasa, dan jonetsu. Deni menuturkan sekali panen ia dapat menghasilkan 2,5 ton pada 1.500 tanaman di green house-nya.
“Satu green house ini luasnya 500 meter persegi dengan tanaman kurang lebih 1.500 pohon. Kalau rata-rata bobotnya itu 1,8 kilogram dan totalnya bisa 2,5 ton saat panen,” sebutnya.
Kini pengunjung di Muria Farm tidak hanya dari kalangan Kudus saja, melainkan sampai merambah hingga ke luar pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sumatera. Deni menjelaskan pengunjungnya berasal dari semua kalangan umur.
“Pengunjungnya dari TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi dan umum sekitar Kudus dan luar kota seperti Yogyakarta, Kalimantan, Sumatra, seluruh Indonesia sudah banyak yang datang ke sini,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

