BETANEWS.ID, SEMARANG – Sebanyak 46 guru SMPN 36 Semarang mendapatkan pelatihan disiplin positif oleh Yayasan Setara, Senin (08/08/2022). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dibagi dua hari untuk pelatihan dan satu hari untuk mereview aturan sekolah.
Fasilitator Yayasan Setara Syamina Dzati Dini mengungkapkan, kegiatan yang bekerja sama dengan Yayasan Indonesia Mengabdi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu bertujuan memberikan edukasi kepada guru untuk memberikan respon tindakan siswa bukan dengan hukuman, tetapi dengan disiplin positif.
“Harapannya setelah guru mengikuti pelatihan ini, bisa menerapkan aturan disiplin positif. Jadi ketika siswa telat atau bajunya tidak dimasukkan sudah tidak diberi hukuman tapi diberikan tindakan yang lebih positif, mungkin dengan diingatkan secara baik-baik,” katanya.
Baca juga: Tahun Ini Anak Pemulung hingga TKI Bisa Sekolah Gratis di SMKN Jateng
“Selain itu, adanya disiplin positif ini diharapkan nanti saat membuat sebuah kesepakatan di dalam kelas, guru bisa melibatkan siswa, jadi tidak hanya guru yang menentukan aturan di dalam kelas,” tambahnya.
Pihaknya pun menjelaskan, akan ada 10 SMP di Semarang yang mendapatkan pelatihan tersebut, yaitu 8 SMPN, 1 SMP swasta, dan 1 lagi SMP swasta berbasis Islam.
“Karena kegiatan ini dananya terbatas, jadi kita juga memilih sekolah sekiranya memang gurunya itu membutuhkan pelatihan ini,” bebernya.
Baca juga: Masuk Sekolah Favorit Via Jalur Anak Yatim Akibat Covid-19, Orang Tua Harap Anaknya Tak Dibully
Kepalas SMPN 36 Semarang Nur Laily mengungkapkan, pihaknya sangat senang karena sekolahnya mendapatkan pelatihan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut bisa menjadi salah satu cara agar anak-anak semakin nyaman dalam belajar di lingkungan sekolah.
“Pastinya sangat senang sekali, karena kita semua guru diberikan pelatihan secara gratis oleh Yayasan Setara dan lainnya. Jadi menambah pengetahuan,” katanya.
“Karena setelah guru mendapatkan edukasi seperti ini, nantinya guru juga bisa mengevaluasi lagi dan diharapkan sekolah bisa menjadi tempat yang nyaman untuk belajar,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

