BETANEWS.ID, KUDUS – Setelah kegiatan kajian koleksi, Museum Patiayam bersama dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran melanjutkan tahap konservasi fosil. Dalam kegiatan ini, mereka melakukan proses perbaikan fosil-fosil yang berdebu, retak, hingga patah.
Pamong Budaya Pelaksana Lanjutan BPSMP Sangiran, Nurul Fadlilah menjelaskan, kegiatan konservasi merupakan tindakan untuk menyelamatkan fosil-fosil yang telah ditemukan.
Biasanya tahapan awal untuk melakukan konservasi fosil adalah dengan rekaman data atau pra konservasi. Dalam tahapan ini, tim melakukan penelitian dahulu terhadap fosil untuk menentukan jenis tindakan saat mengkoservasi.
Baca juga: Gandeng BPSMP Sangiran, Museum Patiayam Lakukan Kajian 5 Koleksi Fosil
“Prosesnya itu melihat kondisi aktual fosil apakah terjadi kerusakan mekanis, seperti patah, gempil, retakan, apakah terbungkus matriks tanah, atau kerusakan faktor biologis seperti serangga. Nah, di situ kita catat semua, kemudian kita beri label konservasi,” ujarnya.
“Di label konservasi itu, nanti kita sertakan metode konservasi yang kita rekomendasikan apakah harus menggunakan konservasi pembersihan kering, pembersihan basah, restorasi, rekonstruksi, penyambungan atau pengawetan fosil,” tambahnya.
Lalu, untuk jenis kerusakan pada fosil, lanjut Nurul, terbagi menjadi tiga kategori, yaitu kategori, ringan, meliputi kotor berdebu, fosilnya masih kuat, terdapat matrik tanah tipis. Lalu kategori sedang, yaitu fosil patah sehingga harus ada tindakan restorasi, rekontruksi disambungkan jadi satu.
Baca juga: Minim Tempat Pameran, Banyak Fosil Tak Bisa Dilihat Pengunjung Museum Patiayam
“Kemudian yang terakhir adalah kerusakan berat. Biasanya fosil mengalami kerusakan yang parah, dan dalam penanganan belum bisa dilakukan secara langsung, karena harus ada uji laborat terlebih dahulu,” jelasnya.
Untuk jumlah fosil yang dikonservasi tahun ini ada 25 fosil, antaranya fosil kaki gajah, tulang kaki gajah, dan tanduk rusa.
“Untuk kegiatan konservasi ini, kita mendatangkan enam tim khusus konservasi saja. Tetapi untuk total semua tim ada 18, yaitu tim kajian koleksi dan inventarisasi,” tutup Nuril.
Editor: Ahmad Muhlisin

