SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Sisa tanaman padi usai panen masih tampak di area persahawan Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus. Lahan persawahan di desa tersebut masih terendam oleh air. Sejumlah petani terlihat masuk ke area sawah untuk mengecek ke dalaman air. Khairun (38), satu di antara petani yang di maksud. Menurutnya, sejumlah petani di desanya belum bisa memulai tanam karena lahan masih tergenang air.

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, kedalaman air masih setinggi paha orang dewasa. Dengan kondisi tersebut dirinya mengaku belum bisa melakukan pembibitan padi. “Tanggal 1 Maret 2017 seharusnya saya sudah melakukan pembimbitan. Kalau kondisinya seperti ini ya molor. Saya tidak bisa apa-apa, hanya pasrah,” ungkapnya saat selesai mengecek ke dalaman air, kemarin.
Dia menjelaskan, saat musim hujan sebagian besar lahan persawahan di Desa Undaan Lor terendam air. Hal tersebut dikarenakan drainase irigasi yang menuju Sungai Wulan tersumbat lumpur. Menurutnya, aliran irigasi sawah hanya terhubung Sungai Juwana dan Sungai Wulan. Dan sampai saat ini, air hanya bisa mengalir ke Sungai Juwana saja.
“Air hanya mengalilr ke arah timur saja (Sungai Juwana) dan tidak bisa cepat. Butuh beberapa hari lagi air di dalam persawahan berkurang,” tambahnya yang menggarap sawah beberapa hektare lahan.
Menurutnya, di Desa Glagahwaru, Berugenjang, Medini dan Sambung sudah melakukan pembibitan tanaman padi. Di musim tanam kedua ini mereka tepat waktu dan kemungkinan akan panen di bulan Juni 2017.
Dirinya memperkirakan, air yang menggenangi persawahan akan normal kembali sekitar satu bulan mendatang, atau awal April tahun ini. Untuk pembibitan dan tanam sendirinya dirinya memerlukan waktu satu setengah bulan. Khairun memperkirakan di musim tanam kedua ini dirinya akan panen padi pada pertengahan Agustus.
“Saya berharap lumpur yang berada di mulut saluran irigasi bisa cepat diambil P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) atau Pemerintah Desa, agar petani cepat tanam. Mosok harus telat satu bulan,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Kelompok Tani Ripin Rejo Saikur Riza menuturkan, seharusnya petani bisa melakukan pembibitan padi tanggal 25 Februari 2017. Karena kondisi sawah masih terendam, akhirnya tanam padi molor sekitar satu bulan. Hal tersebut dikarenakan Sungai Patusan yang digunakan saluran irigasi utama tidak bisa membuang air.
“Sungai Patusan pembuangannya ada dua. Di timur ke Sungai Juwana dan barat melalu pintu JU4B menuju Sungai Wulan,” tuturnya.
Untuk pembuangan ke arah Sungai Juwana sudah dilakukannya, namun laju air sangatlah lambat. Perlu beberapa hari sehingga air di sawah dapat normal. Menurutnya, jika jalur ke arah Sungai Wulan lancar, air yang berada di persawahan akan kembali normal dengan cepat.
“Namun di mulut corong ada sedimentasi lumpur. Yang terendam lumpur lebarnya 22 meter, panjangnya 400 meter dan ke dalamannya 15 meter,” jelasnya.
Menurutnya, dengan kondisi lumpur yang tebal, harus menggunakan bantuan alat berat dan dana yang tidak sedikit. Diberitahukan, lumpur yang menutupi pintu JU4B bisa dihilangkan saat musim kemarau saja. Pihaknya hanya bisa mengandalkan pembuangan air menuju Sungai Juwana saja.
“Untuk bibit padi sudah dipersiapkan. Jumlahnya ada 11 ton. Bibit tersebut subsidi dari pemerintah yang bisa dibeli petani Rp 15 ribu per bungkus. Satu bungkusnya isi 5 kilogram,” tambahnya.

