BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang membelah bambu di depan rumah yang berada di di Desa Japan RT 4 RW 3, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Setelah semua bambu dipotong, ia pun melanjutkan dengan menjemur bambu tersebut di bawah terik matahari. Ia adalah Ngatmin (44), pembuat biola bambu.
Setelah itu, ia tampak masuk ke dalam rumah meneruskan pembuatan biola yang masuk dalam tahap akhir. Di bagian neck (kepala biola) biola itu, terlihat ukiran wayang yang menjadinya sangat berbeda dengan biola kebanyakan. Menurutnya, inovasi ukiran wayang itu merupakan upayanya menarik minat pembeli di masa pandemi.

“Ini merupakan inovasi terbaru. Selama ini saya hanya membuat biola dari bambu, sehingga sekarang saya mencoba modifikasi baru yaitu menambahkan ukiran pada bagian neck dengan tokoh wayang dan burung garuda. Saya juga ada modifikasi biola dengan memadukan sentuhan kayu sonokeling,” jelas Mbah Min, Jumat (12/11/21).
Baca juga: Ngatmin, Tukang Kayu Lulusan SD yang Mendunia dengan Biola Bambu Buatannya
Tak hanya itu, ia juga bisa melayani pesanan ukiran di bagian kepala sesuai dengan keinginan pembeli. Tentu saja, harganya akan berbeda dengan yang sudah disediakannya.
“Konsumen bisa pesan sesuai keinginan mereka, mungkin tokoh wayang Arjuna, Gatotkaca atau apa saja pokoknya bias. Tidak hanya motif wayang melainkan juga motif burung garuda biola juga bisa,” jelas Mbah Min .
Tak hanya ada ukiran, kata dia, bahan baku yang dibuat pun berbeda. Yakni perpaduan bambu petung dan kayu sonokeling. Dua bahan baku tersebut dapat menghasilkan suara yang nyaring dan lebih elegan.
“Perpaduan bambu dan kayu sonokeling. Nanti menghasilkan suara yang lebih elegan,” ungkap dia.
Baca juga: Biola Bambu dari Lereng Muria Sukses Tembus Pasar Mancanegara
Lalu, untuk harga yang di tawarkan, satu biola buatannya dipatok harga beragam antara Rp 1,4 juta hingga Rp 4 juta.
Mbah min juga mengatakan, untuk penjualan selama pandemi ini mengalami penurunan. Bahkan hanya laku satu sampai dua biola dalam sebulan. Mbah Min mengaku adanya pembatasan kegiatan masyarakat berdampak pada kegiatan seni.
“Memang saya akui selama pandemi ini sangat berkurang. Karena maklum boleh dibilang ini bukan kebutuhan pokok. Ini kebutuhan seni dan orang dilarang masih berkumpul-kumpul. Lha makanya saya mencoba bertahan dengan keadaan seperti ini,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

