Biola Bambu dari Lereng Muria Sukses Tembus Pasar Mancanegara

BETANEWS.ID, KUDUS – Ngatmin (44) duduk di sofa ruang tamu rumahnya yang berada di Desa Japan RT 4 RW 3, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Dengan memakai ikat di kepalanya, ia memainkan alat musik biola. Gesekan ritmis suara biola mulai mengalun merdu saat memainkan lagu Sue Ora Jamu.

Di atas meja ruang tamu tersebut, berjajar beberapa biola yang siap dijual. Biola itu berbeda dengan biola pada umumnya. Sebab itu adalah biola Lereng Muria yang terbuat dari bambu.

Ngatmin menunjukkan biola bambu buatannya. Foto: Rabu Sipan.

Ngatmin menuturkan, biola bambu hasil karyanya memang istimewa, unik, dan bernilai seni. Oleh sebab itu, biola bambunya banyak diminati orang dari dalam negeri maupun luar negeri. Dia mengaku, pernah dapat order untuk biola bambu dari Hongkong dan Malaysia.

-Advertisement-

“Terakhir saya ngirim ke mancanegara itu tahun 2019, sebelum pandemi,” ujar Ngatmin kepada Betanews, Sabtu (24/7/2021).

Baca juga: Ornamen GRC Produksi Warga Undaan Ini Tembus Pasar Luar Negeri

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menambahkan, biola bambu hasil karyanya dibanderol mulai Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Harga tersebut memang lebih mahal dari harga biola kayu. Namun, suara yang dihasilkan ia berani jamin lebih merdu.

“Proses pembuatan biola bambu itu lama dan rumit. Serta tidak semua bambu bisa dibuat untuk biola,” bebernya.

Dia mengatakan, ada dua jenis bambu yang bisa digunakan untuk bahan biola, yakni bambu petung dan bambu wulung. Menurutnya, bambu petung menghasilkan suara sopran (suara tinggi perempuan) dan bambu wulung menghasilkan suara tenor (suara tinggi pria). 

“Dari beberapa percobaan, saya pun memutuskan memilih bambu petung untuk saya olah jadi biola,” ungkapnya.

Baca juga: Tersedia Banyak Model, Mobil Aki Mainan di Toko MYQ Toys Terjual Hingga 70 Unit Sebulan

Dia pun kemudian menjelaskan proses pembuatan biola bambu yang cukup lama, yakni sekitar 1,5 bulan untuk satu biola. Di tempat produksinya itu, ia mambuat hampir semua kompnen, mulai dari kepala biola, kotak pasak, pasak, baut, leher biola, papan jari, purfling, lekukan C, lubang F, jembatan biola, penyetel, ekor biola, penyangga dagu, pin tali.

“Semua bagian biola saya bikin sendiri. Hampir semua berbahan bambu. Hanya kepala biola saya masih menggunakan kayu, sebab bagian tersebut akan saya beri ukiran tokoh wayang, garuda atau sesuatu sesuai pesanan pelanggan,” ungkapnya.

Dia mengaku, sebelum ada pandemi Covid-19 ia mampu menjual tiga unit biola setiap bulannya. Sejak ada pandemi bisa laku satu unit saja dalam sebulan sudah bagus. 

“Dulu sebelum pandemi ada pekerja untuk bantu bikin biola. Sekarang libur dulu, bahkan kalau tidak ada permintaan biola, saya pun harus kerja lagi di mebel. Gimana lagi semua karena kebutuhan,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER