BETANEWS.ID, DEMAK – Malam itu ponsel pntar Wasiul Maghfiroh seorang guru agama SD Bedono 1, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak berdering menerima pesan WhatsApp dari group wali murid.
Dia terperangah, kiriman pesan tersebut berisi foto rumah wali murid yang terkena rob. Ia masih ingat, kejadian tersebut terjadi pada Desember 2020 yang lalu.
Saat itu, memang terjadi hujan lebat yang disertai angin yang cukup kencang. Melihat banyak rumah wali murid yang kemasukan air, dia langsung menghubungi penjaga sekolah yang rumahnya tak jauh SD Bedono 1.
“Terus kondisi sekolah gimana?” batinnya saat itu.
Baca juga: SD Bedono 1 Demak Hancur Terkena Rob, Siswa Dipindahkan ke Sekolah Lain
Apa yang dia khawatirkan ternyata benar-benar terjadi. SD Bedono 1 ternyata juga sudah kemasukan air. Bahkan, beberapa gedung juga rubuh karena air yang cukup deras.
“Ternyata sekolahnya juga rusak parah,” ujarnya saat ditemui di SD Bedono 2, Rabu (3/11/2021).
Saat itu, dia bersyukur lantaran tak ada siswa yang masuk sekolah karena banyak ruangan yang tak bisa digunakan. Jika dia hitung, terdapat lima ruangan yang tak bisa digunakan. Desember 2020 itu, tersisa tiga ruangan yang masih bisa digunakan.
“Saat itu yang datang hanya guru, murid pada sekolah daring,” katanya menceritakan.
Hingga akhirnya, siswa sebagian harus melakukan sekolah luring, karena ruangan tak bisa digunakan. Beberapa siswa ada yang belajar di warung, dermaga dan lapangan. Padahal, saat itu para siswa sudah mendekati waktu untuk ujian sekolah.
“Kebetulan satu kelas hanya 15 siswa ya jadi bisa leluasa. Sambil melakukan pelajaran di luar ruangan, ruang kelas mulai diurug. Alhamdulillah saat itu para siswa bisa melakukan ujian,” ucapnya.
Baca juga: 2050 Demak Diprediksi Tenggelam, Kerugian Akibat Abrasi Puluhan Triliun Rupiah (6/6)
Dia mengaku, ketika melakukan pembelajaran di SD Bedono 1 seringkali terkena rob. Hampir setiap hari, guru dan siswa harus membersihkan kotoran dari rob.
“Kalau saat rob, para siswa malah seneng tapi gurunya yang was-was, ” ujarnya.
Namun, beberapa bulan kemudian tiga ruang yang tersisa itu ikut rusak karena posisinya lebih rendah dibandingkan dengan posisi halaman.
“Akhirnya siswa terpaksa dipindahkan ke SD Bedono 2, agar mereka tetap bisa belajar dengan tenang,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

