31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

4 SD di Solo Ditutup Sebulan Setelah jadi Klaster PTM

BETANEWS.ID, SOLO – Sebanyak empat sekolah dasar (SD) di Solo harus menghentikan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) selama sebulan. Penutupan itu dilakukan buntut adanya penemuan kasus sebanyak 30 siswa lebih yang terpapar Covid-19. Empat SD tersebut adalah SD Kristen Manahan, SD Mangkubumen Kidul, SD Semanggi Lor, dan SD Islam 1 Jamsaren.

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menegaskan, selama PTM berlangsung, Pemerintah Kota melakukan evaluasi dan testing acak pada sekolah-sekolah yang mengadakan PTM. Dirinya menyebut bahwa dari murid yang hasil tes covidnya positif tersebut kebanyakan berasal dari luar kota Solo.

Gibran membeberkan, dari ke empat SD yang telah melakukan tracing tersebut, penemuan kasus terbanyak di SD Kristen Manahan. Diketahui terdapat 28 murid terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil swab PCR.

-Advertisement-

Baca juga: Solo Turun ke PPKM Level 2, Tempat Karaoke Akan Kembali Dibuka

“Tidak perlu takut, ada yang kita tutup dua minggu ada yang lebih. Mitigasinya kita lakukan testing, tracing termasuk guru, orangtua murid. Nanti kita koordinasikan dengan daerah asal. Sekolah-sekolah lain yang tidak terpapar silahkan PTM terus,” ujar Gibran, Senin, (18/10/2021).

Meski ada yang ditutup, Gibran mengimbau kepada siswa dan orangtuanya untuk tidak usah takut. Karena sekolah lain yang tidak terjadi klaster masih bisa menjalankan PTM. Gibran mengatakan, hal tersebut memang sudah menjadi salah satu resiko dari pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

“Makanya hati-hati sekali. Saya tiap hari selalu ingatkan, ngecek, rewe ke guru-guru. Masker jangan dilepas, masker jangan diturunkan, sing ngelingke nganti bosen (yang mengingatkan sampai bosan). Kalau sudah seperti ini susah kan,” tegasnya.

“Ya ini resikonya. Lha apa meh ora sekolah terus? Semoga tidak mempengaruhi level 2, akan kita evaluasi terus” tandasnya.

Sementar itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta Siti Wahyuningsih mengatakan, penularan yang dialami oleh para siswa kemungkinan terjadi di luar sekolah. Penularan ini juga bisa saja terjadi di rumah dan lingkungan tempat tinggal.

Baca juga: Gibran Jalankan Vaksinasi Door to Door untuk Jangkau Warga yang Tak Mau Vaksin

“Kewajiban prokes itu lebih banyak ke orangtua. Sekolah itu hanya berapa persen saja. Tapi begitu sekolah ada yang positif inilah yang terjadi. Faktor kemungkinan banyak bisa dari sekolah. Sekolah kan baru masuk bisa, di jalan bisa, di rumah bisa juga tidak dari satu orang,” terang Siti.

Siti menambahkan, pihaknya akan terus melakukan testing, tracing, dan treatment sesuai dengan arahan Kementerian Kesehatan. Makanya, penerapan protokol kesehatan yang ketat jangan sampai lengah.

“Antisipasi lanjutan adalah prokes harga mati. Memakai masker dengan benar ini penting karena untuk menangkal paparan virus dari penderita yang tidak bergejala. Kalau prokes dijalankan benar-benar maka bisa melindungi 97 persen ditambah jaga jarak dan rajin cuci tangan,” tutup Siti.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER