BETANEWS.ID, SOLO – Ratusan buku-buku bekas dan beberapa barang antik tampak tersusun rapi di sebuah kios di Taman Buku dan Majalah Alun-alun Utara Surakarta. Seorang pria, juga terlihat sedang menyusun beberapa buku agar lebih rapi. Pria tersebut adalah Bambang Tri Harjanto (66), pemilik toko buku dan juga Ketua Paguyuban Pasar Buku Loak di Kompleks Alun-alun Utara Surakarta.
Bambang, merupakan salah satu pedagang buku bekas yang merupakan cikal-bakal pasar buku itu. Dirinya mengaku sudah berjualan sejak tahun 1997. Hingga sekarang, dirinya masih semangat menekuni usahanya itu meski pelanggan tidak seramai dulu.

Baca juga : Kian Sepi, Pusat Buku Bekas di Alun-alun Utara Solo Makin Tenggelam di Era Digital
“Ya masih minat, sudah asyik aja, tapi sekarang sudah tidak menunjang kebutuhan sih, sudah kalah sama buku-buku baru. Kalau masih mengandalkan dengan buku-buku lama, ini sudah nggak jalan,” ujarnya kepada Betanews.id, Sabtu (25/9/2021).
Bambang mengaku, bahwa puncak kejayaannya dalam berjualan buku bekas sekitar tahun 2002 hingga 2004 silam. Namun, semakin ke sini, dirinya mengatakan, bahwa berjualan buku bekas sudah tidak terlalu menjanjikan.
Tidak hanya harian, Bambang mengaku, bahwa dirinya pernah tidak bisa menjual dagangannya sama sekali berminggu minggu.
“Perbedaannya dengan sekarang mantap sekali. Ya mulainya macet itu, hampir 10 tahunan, sudah mulai kelihatan turun. Sekarang nyantai, nggak terlalu diharapkan banget lah,” kata dia.
Meski demikian, Bambang masih mengharapkan bisnisnya tetap berjalan dan masih menguntungkan. Kini, cara yang dilakukan adalah dengan membeli buku-buku keluaran baru, agar dapat menyamakan dengan toko-toko buku besar yang menjual buku keluaran terbaru.
“Bukunya kita sekarang sama dengan buku baru, sama dengan toko. Kalau di sini kan lumayan miring, beda jauh dengan yang di tokonya,” ucapnya.
Selain berjualan buku bekas, pria yang dikaruniai tiga anak itu, juga menjual berbagai arsip-arsip langka yang bila dijual dapat menjadi uang yang cukup fantastis. Namun, beberapa tidak ia jual, lantaran sudah sangat langka dan barang tersebut sangat berharga baginya.
“Selain buku, yang aneh-aneh, yang langka yang, yang dibikin cuma sekali masih saya simpan,” kata dia.
Dirinya juga menunjukkan koleksinya berupa pin pernak pernik prajurit Jepang. Selain itu juga, silsilah kerajaan Mataram yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa.
“Dulu pernah saya dikabari sama kaya pengepul rongsok gitu, terus ada arsip-arsip kuno. Pernah waktu itu, saya lupa tahunnya, tapi bisa saya jual Rp 26 juta. Tapi waktu itu nggak boleh bilang siapa-siapa, katanya karena bisa merusak pasar,” ujarnya.
Baca juga : Mulai Langka, Koleksi Buku Bekas Erik Mampu Tembus Pasar Luar Negeri
Dengan arsip kuno dan baran-barang antiknya, Bambang sedikit berharap ada yang berminat membelinya dengan harga yang sesuai. Dirinya beharap, agar suatu saat dengan barang antiknya bisa membuatnya mendapatkan pundi-pundi uang.
“Ya kalau itu memang sudah berjalan ya biasa-biasa aja, karena kan yang boleh dikatakan istimewa ya sekali cetak aja. Pokonya biar seperti air mengalir gitu aja, ya cuma khayalannya aja bisa ada tiba-tiba ada orang yang beli,” ujarnya sambil tertawa.
Editor : Kholistiono

