BETANEWS.ID, SOLO – Jumlah pasien Covid-19 di Solo yang berangsur menurun membuat tenda darurat di depan Rumah Sakit Moewardi dibongkar. Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Siti Wahyuningsih mengungkapkan, Bed Occupancy Rate (BOR) di Solo saat ini dalam posisi 71 persen.
Siti menambahkan, kapasitas BOR di Solo hingga saat ini banyak diisi pasien dari luar kota. Sedangkan pasien warga Solo mengalami penurunan. Kendati demikian, rumah sakit belum boleh mengurangi jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19.
“Tenda itu kan menggambarkan UGD, saya minta pasien UGD jangan terlantar, mosok terlantar di teras-teras saya tidak mau dan akhirnya diberi tenda, di bantu kemensos juga. Maksudnya memberi kenyamanan untuk pasien yang sakit,” ujarnya, Kamis (5/8/2021).
Baca juga: Diwaduli Lauk di Tempat Isolasi Telur Terus, Ganjar : ‘Nanti Menunya Tak Suruh Pesan di Chilli Pari’
Setelah pasien di UGD turun, lanjut Siti, pasien bisa tertampung di dalam sehingga tenda dapat dilepas. Dirinya menyebutkan bahwa bed untuk pasien Covid-19 di Solo berjumlah sekita 1.200.
“Kemarin yang warga Solo malah 26 persen. BORnya turun lagi jadi 71 persen. ICU posisi masih 80an persen. Rumah sakit kan hilir, yang penting hulu,” kata dia.
Terpisah, Direktur RSUD dr Moewardi, Cahyono Hadi mengatakan, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di tempatnya sudah turun drastis. Rabu (4/8/2021) kemarin, pasien yang dirawat tinggal 250 warga dari sebelumnya mencapai 600 orang.
“Pasien Covid rawat inap di RS Moewardi sudah menurun lebih dari 50 persen. Tenda di halaman RS juga sudah mulai kita bongkar,” kata Cahyono.
Menurut Cahyono, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang saat ini sedang diberlakukan cukup efektif menyumbang angka penurunan paparan Covid-19. Namun, hal tersebut tidak terlepas dari upaya yang lainnya.
“Selama dua minggu ini sudah mulai menurun terus. Kata kuncinya adalah protokol kesehatan dan jaga jarak, serta vaksin untuk memperkuat antibodi kita,” jelas Cahyono.
Baca juga: Ayahnya Meninggal Karena Covid, Gibran Jamin Pendidikan Tiga Anak Ini Hingga S1
Dirinya melanjutkan, parameter tingginya pasien yang terpapar Covid-19 bisa dilihat dari penyediaan tenda darurat di halaman rumah sakit. Kalau di tenda sudah tidak ada pasien berarti memang pasien yang terpapar Covid menurun.
“Kemarin 2 tenda yang masih berdiri itu sudah kosong, hari ini tinggal 1 tenda,” ungkapnya.
Saat ini RS dr Moewardi sudah mulai banyak pasien umum atau non-Covid-19. Cahyono mengungkapkan, puncak paparan Covid-19 pernah dialami oleh RS Moewardi sekitar awal Juli di mana sejumlah 650an bed khusus pasien Covid-19 yang disiapkan penuh.
“Puncak terjadi setelah kasus Kudus, bisa jadi di Solo karena tracing setelah Lebaran, tapi yang bisa memastikan penyebab kenaikan tersebut adalah ahli epidemiologi. Kita tidak pernah menolak pasien, karena membeludak, makanya kita dirikan tenda agar pasien bisa menunggu dengan nyaman,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

