BETANEWS.ID, SEMARANG – Suasana Kota Lama Semarang tak seramai biasanya. Beberapa akses jalan untuk masuk ke kawasan tersebut ditutup. Selain itu, beberapai coffee shop jujukan anak milenial seperti Filososfi Kopi juga tampak tak buka.
Sejak diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Kota Lama Semarang layaknya kota mati. Kepadatan wisatawan yang biasanya banyak dijumpai, kini benar-benar sepi lantaran pemerintah gencar melarang bepergian.
Kondisi tersebut berdampak terhadap operasional usaha di kawasan Kota Lama Semarang. Tak sedikit yang memilih gulung tikar atau menutup usahanya untuk sementara waktu karena sepi.
Pimpinan Cabang Restoran Pringsewu Semarang, Dani Ramadan mengatakan, resto miliknya saat ini sedang berusaha tetap bertahan di tengah keterbatasan meski harus berjalan dengan tertatih-tatih semenjak PPKM.
Baca juga: Pemprov Jateng Siapkan Bansos untuk 133.555 Pedagang Terdampak PPKM
“Pendapatan kami turun drastis hingga 80 persen. Sepi karena tak ada wisatawan,” jelasnya saat ditemui di kompleks Kota Lama Semarang, Selasa (3/8/2021).
Bahkan, pihaknya terpaksa merumahkan para pekerja. Dari awalnya 30 karyawan kini hanya tertinggal 10 orang saja. Usaha miliknya tak sanggup menanggung membayar karyawan yang cukup banyak sementara pembeli di tempatnya sepi.
“Kita terpaksa memangkas SDM dari 30 karyawan kini tersisa 10 karyawan,” ujarnya.
Hal yang sama dikatakan Manajer Hero Coffee Semarang, Bagas Agustinus. Sejak PPKM, gaji karyawan terpaksa dipangkas. Hal itu disebabkan jam oprasional yang juga ikut berkurang
“Gaji karyawan ikut dipangkas karena jam untuk kerja juga berkurang,” katannya.
Baca juga: Selama PPKM Darurat, Disnaker Sebut Tak Ada Laporan Pekerja di Kudus yang Kena PHK
Selain itu, coffee shop miliknya itu juga mengalami penurunan pendapatan sampai 70 persen dibandingkan kondisi normal. Sementara, biaya sewa ruko tak pernah turun.
“Kalau harga sewa tak pernah turun, dalam satu tahun biaya sewa tempat bisa ratusan juta,” ujarnya.
Meskipun omzet menurun, pihak kafe ini berusaha untuk tetap mempertahankan karyawannya. Ada 20 orang yang bergantung hidup di Hero Coffee.
“Meskipun kondisi seperti ini kami tetap utamakan karyawan. Tidak ada yang kami PHK,” tandas Bagas.
Editor: Ahmad Muhlisin

