31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Cerita Pilu Pedagang Taman Bojana, Sampai Jual Motor Demi Tutupi Kerugian dan Bayar Utang

BETANEWS.ID, KUDUS – Di salah satu kios Taman Bojana Kudus tampak seorang perempuan mengenakan masker dan jilbab warna merah hati sedang duduk. Di antara dagangannya, ia duduk termangu menunggu pembeli. Perempuan tersebut yakni Nikmah (64) pemilik warung soto Pak Ramidjan.

Sembari menunggu pembeli, Nikmah berbagi cerita kepada Betanews soal sulitnya berjualan di masa pandemi, terutama di masa PPKM Darurat. Menurutnya, selama berjualan puluhan tahun, masa pandemi merupakan waktu paling sulit. Karena pandemi Covid-19 penjualan turun drastis. Bahkan hasilnya itu sekedar untuk menutup operasional per hari saja tidak cukup.

“Pandemi ini benar-benar bikin rugi. Dampaknya itu sudah kami rasakan sejak awal pandemi. Bahkan pada awal pandemi saya itu sudah jual motor untuk menutupi kerugian,” ujar Nikmah kepada Betanews, Rabu (21/7/2021).

-Advertisement-

Baca juga: Pedagang Taman Bojana Emoh Direlokasi ke Lantai 3 Pasar Kliwon Kudus

Nikmah mengatakan, kondisi usahanya di masa pandemi sungguh sangat memprihatinkan. Tidak hanya jual motor untuk menutup kerugian, dia juga harus hutang untuk menambal kebutuhan. Dia mengaku, keadaan sulit ini benar bikin pusing dan benar-benar bikin menangis.

“Keadaan pandemi ini benar-benar sulit. Jualan rugi, tidak jualan tidak ada penghasilan. Pokoknya bikin pusing dan bikin nangis. Bahkan untuk beli beras satu kilogram itu tak bisa. Hal itu berbeda sebelum ada Covid-19, jualan lancar dan ada hasilnya,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah lebih dari 30 tahun berjualan itu menuturkan, saking sulitnya keadaan dan beberapa kebijakan yang merugikan pelaku usaha itu, para pedagang Taman Bojana Kudus pernah kompak menutup kios. Hal tersebut memang tidak bikin rugi, tapi ganti tak ada penghasilan dan pikiran buntu karena menganggur.

“Saya itu sudah terbiasa kerja dari kecil. Kalau nganggur pikiran saya buntu. Makanya saat teman-teman memutuskan berjualan lagi, saya langsung jualan. Meski yaitu di hari pertama jualan ini masih sepi dan terancam nombok lagi,” bebernya.

Hal senada juga diungkapkan pedagang Taman Bojana lainnya yakni Rahayu Mei Diawati (45). Masa pandemi ini memang sangat berdampak. Bahkan, pusat jajanan selera rakyat tersebut harus beberapa kali ditutup dengan berbagai alasan.

Baca juga: Belum Ada Investor, Rencana Pembangunan Taman Bojana Belum Jelas

“Kemarin selama 16 hari kami tutup karena ada PPKM Darurat dan penutupan akses jalan menuju Taman Bojana, sehingga sepi pembeli. Selain itu pernah juga ditutup karena ada pembeli yang meninggal secara mendadak,” ujar perempuan yang akrab disapa Mei tersebut.

Dia menuturkan, pandemi Covid -19 mengakibatkan pengunjung yang datang ke Taman Bojana Kudus turun drastis. Ditambah adanya penyekatan jalan, hal itu membuat para pedagang kuliner Taman Bojana makin menderita. 

“Pandemi ini memang bikin menderita dan dilema. Jualan sepi pembeli dan rugi. Kalau tidak jualan tidak ada pemasukan sama sekali, serta bikin badanku pada sakit,” tuturnya.

“Yang penting jualan dulu. Semoga saja nanti ada kelonggaran dari pemerintah. Harapan kami penutupan jalan itu segera dibuka. Tujuannya agar para pembeli bisa datang ke Taman Bojana Kudus,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER