Ramadan Makin Meriah dengan Festival Takjil Kampung Budaya Piji Wetan, Sajikan Kuliner hingaa Pertunjukan Budaya

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Panggung Ngepringan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Minggu (15/3/2026). Kampung Budaya Piji Wetan kembali menggelar Festival Takjil, sebuah agenda tahunan yang menghadirkan perpaduan kuliner Ramadan, pertunjukan seni, serta berbagai lomba untuk memeriahkan waktu menjelang berbuka puasa.

Festival yang digelar pada pekan terakhir Ramadan tersebut menjadi salah satu kegiatan unggulan masyarakat setempat dalam mengisi waktu menjeleng berbuka. Sejak sore hari, masyarakat dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi acara untuk menikmati beragam sajian takjil sekaligus menyaksikan berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Tak hanya menjadi ajang berburu makanan berbuka puasa, festival ini juga menjadi ruang berkumpul bagi para pegiat seni, pelajar, serta komunitas untuk saling berinteraksi dan berbagi kegembiraan di bulan suci.

-Advertisement-

Beragam perlombaan turut digelar untuk memeriahkan acara, di antaranya lomba fashion show anak, lomba menggambar dan mewarnai, lomba kaligrafi, hingga lomba adzan dan iqamah. Selain itu, terdapat pula bazar UMKM, pasar murah, hingga karaoke islami yang menambah semarak suasana ngabuburit di kampung budaya tersebut.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan, Muchammad Zaini mengatakan, Festival Takjil merupakan agenda rutin tahunan yang digelar untuk menyambut semarak Ramadan sekaligus menjadi sarana syiar Islam melalui pendekatan seni dan budaya.

“Festival ini rutin kami adakan setiap Ramadan. Selain menjajakan kuliner takjil, kami ingin kegiatan ini menjadi sarana dakwah melalui seni,” ujarnya.

Baca juga: Ramadan, Museum Jenang dan Gusjigang Jadi Favorit Ngabuburit Warga

Ia menambahkan, berbagai kegiatan yang dihadirkan juga bertujuan untuk mendorong regenerasi pelaku seni sekaligus mempertemukan berbagai komunitas dalam satu ruang kebersamaan.

Melalui lomba-lomba bernuansa religi dan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, pihaknya berharap nilai-nilai kebersamaan dan semangat berbagi dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.

“Festival ini kami tutup dengan tradisi lengseran, yakni kegiatan berbuka puasa bersama secara melingkar yang menghadirkan suasana kebersamaan seperti pada masa lampau,” jelasnya.

Menurutnya, tradisi lengseran sengaja dihadirkan untuk menghidupkan nilai-nilai kebersamaan yang mulai jarang ditemui di tengah masyarakat modern.

“Tradisi lengseran sekarang sudah jarang dilakukan. Melalui festival ini kami ingin menghidupkan kembali tradisi tersebut,” katanya.

Ia berharap Festival Takjil tidak hanya menjadi kegiatan ngabuburit semata, tetapi juga mampu mempererat hubungan sosial masyarakat lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Selain itu, festival tersebut juga menjadi pengingat akan nilai filosofi pager mangkok yang diajarkan Sunan Muria, yakni semangat berbagi kepada sesama. Menurut Jessy, bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk menumbuhkan kembali budaya bersedekah dan kepedulian terhadap sesama.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk berbagi dan bersedekah kepada sesama,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER