BETANEWS.ID, KUDUS – Tunggakan tagihan penggantian biaya perawatan pasien Covid – 19 di Rumah Sakit Aisyiah Kudus hingga saat ini belum cair. Klaim tagihan itu nilainya tidaklah sedikit. Jumlahnya mencapai belasan miliar rupiah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Rumah Sakit Aisyiah Kudus yakni dr Hilal Ariadi. Dia mengatakan, saat ini pihak Rumah Sakit Aisyiah Kudus memang sedang membentuk tim untuk penagihan pengganti biaya perawatan pasien Covid – 19. Pihaknya juga sudah menyiapkan bukti acara, verifikasi klaim – klaim pasien Covid di Rumah Sakit Aisyiah Kudus.

Baca juga : RS Aisyiyah Terima Bantuan Crane Pemulasaraan Jenazah dari IT Telkom Surabaya
“Namun, sampai saat ini biaya pengganti perawatan pasien Covid – 19 itu belum juga turun. Nilai tagihannya yang sudah diverifikasi dan sudah ada berita acaranya sebesar Rp 18 miliar,” ujar pria yang akrab disapa Hilal kepada awak media, Kamis (1/6/2021).
Hilal mengungkapkan, jumlah tagihan klaim pengganti biaya perawatan pasien Covid -19 itu terjadi sejak Oktober 2020 hingga Mei 2021. Sedangkan untuk perawatan sebelumnya, tagihannya sudah cair sebesar Rp 5 miliar. Sehingga, untuk menutupi laju operasional rumah sakit, pihaknya mengandalkan dana klaim BPJS.
“Untuk menutup biaya operasional RS Aisyiah Kudus, sementara ini mengandalkan dana klaim BPJS. Kalau klaim dana BPJS selama ini lancar, nilainya sekitar Rp 3 miliar per bulan,” bebernya.
Namun, kata Hilal, selama pandemi biaya operasional rumah sakit membengkak. Sebab kebutuhan juga meningkat. Di antaranya obat – obatan, kemudian ada alat pelindung diri (APD) serta insentif untuk nakes dan lain sebagainya.
“Untuk menutupi kekurangan itu pihak RS Aisyiah Kudus pun mencari dana talangan, tandasnya.
Baca juga : Tak Biasa, Pelantikan Direktur RS Aisyiyah Kudus Dilaksanakan Sembari Berjemur
Dia mengatakan, operasional paling besar yakni untuk sumber daya masyarakat (SDM). Sebab tidak bisa dikurangi. Apalagi tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di zona – zona yang berisiko tinggi, itu ada insentifnya khusus. Di antaranya nakes yang bertugas di ruang isolasi, Unit Gawat Darurat (UGD) dan lain sebagainya.
“Kemudian ada uang lembur. Sebab selama pandemi Covid – 19, banyak nakes di RS Aisyiah yang terpapar. Sehingga otomatis nakes yang lain harus kerja lembur. Agar pelayanan tidak terganggu,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

