BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam ruangan Omah Batik-Ku tampak seorang pria memamerkan sebuah kain batik. Kain batik tersebut terdapat motif pohon membentuk beberapa bulan sabit. Di samping motif bulan sabit tersebut ada motif kupu-kupu. Sedangkan untuk isian dalam batik tersebut adalah beras wutah. Kain tersebut adalah kain batik Bulan Bintang, batik khas Kudus karya Omah Batik-ku.
Muhammad Fadloli selaku penanggung jawab produksi Omah Batik-Ku menuturkan, sejak berdiri pada 2019, Omah Batik-Ku memang mereproduksi batik-batik lama khas Kudus. Satu di antaranya adalah batik Bulan Bintang. Konon batik tersebut tercipta karena terinspirasi kisah dari Nabi Yusuf Allaihi Salam (AS).
“Batik Bulan Bintang ini khas batik Kudus, tepatnya berasal dari Desa Langgardalem. Batik Bulan Bintang ini tercipta karena terinspirasi kisah perjalanannya Nabi Yusuf,” ujar pria yang akrab disapa Fadloli kepada Betanews.id, Jumat (22/5/2021).
Baca juga: Keindahan Corak Batik Karya Fadloli Ini Bikin Warga Australia Sampai Datang ke Kudus
Fadloli mengungkapkan, sebelum jadi menteri, kisah Nabi Yusuf dimulai dari pahitnya kehidupan. Ia dulu dizalimi saudaranya, difitnah, hingga ia menafsirkan mimpi serta dianggap mampu mengatasi masa panceklik negerinya. Dari situlah kemudian beliau diangkat jadi menteri urusan pangan.
“Di batik Bulan Bintang ini mecakup cerita pahitnya kehidupan hingga jadi orang yang dimuliakan dan makmur. Yang dicanting berupa simbol-simbol dalam motif batik Bulan Bintang,” ungkapnya.
Kemakmuran, kata dia, disimbolkan oleh beras tumpah sebagai isian dalam Batik Bulan Bintang. Sedangkan untuk motifnya berupa pohon hayati yang membentuk bulan sabit. Pohon hayati adalah pohon kehidupan, pohon dengan ciri kelihatan akarnya. Di tengah-tengah pohon hayati terdapat bunga melati yang berarti suci dan harum.
“Secara keseluruhan batik Bulan Bintang sebagai lambang kehidupan alam semesta, untuk permohonan makmur di bidang pangan,” bebernya.
Baca juga: Pesona Motif Batik Khas Kudus Tempo Dulu yang Tetap Lestari di Omah Batik-Ku
Karena melambangkan kemakmuran, tuturnya, kain batik Bulan Bintang banyak dipesan para pejabat dan pengusaha di Nusantara. Sebab bagi mereka yang percaya, batik Bulan Bintang dianggap mampu mensejahterakan penguasa dan rakyatnya, serta memakmurkan lahan pangannya.
“Biasanya Batik Bulan Bintang itu dijadikan hiasan dinding oleh pemiliknya. Terutama para pejabat dan pengusaha,” katanya.
Dia mengatakan, batik khas Kudus Bulan Bintang ini sebenarnya sudah ada pada abad 17. Namun, keberadaannya hampir punah. Bahkan ia melihat Batik Bulan Bintang paling lama itu yang diproduksi pada tahun 1920. Karena ingin melestarikan batik khas Kudus zaman dulu, ia pun kemudian mereproduksi ulang batik Bulan Bintang.
“Untuk harga Batik Bulan Bintang kami mematoknya Rp 3 juta sampai Rp 7 juta,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

