BETANEWS.ID, KUDUS – Penutupan Balai Jagong sebagai imbas melonjakknya kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus disesalkan para pedagang di area tersebut. Penutupan yang dilakukan mulai hari ini, Senin (24/5/2021) itu akan berlaku sampai waktu yang belum ditentukan.
Satu di antara pedagang yang mengeluh adalah Maryati. Warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati itu mengaku sedih jika Balai Jagong ditutup, sebab dirinya dan pedagang lainnya tidak bisa berjualan. Dengan begitu, otomatis ia akan kehilangan penghasilan.

“Sedih kalau Balai Jagong ditutup. Soalnya kan tidak bisa berjualan. Tidak punya penghasilan. Sedangkan sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga ya dari berjualan di sini,” ujarnya, Senin (24/5/2021).
Baca juga: Mulai Hari Ini Balai Jagong Ditutup Sampai Waktu yang Belum Ditentukan
Maryati mengaku sudah berdagang di Balai Jagong selama lima tahun. Menurutnya, sejak ada pandemi covid-19, nasib orang kecil seperti dirinya tak menentu. Ia merasa kebijakan pemerintah dalam penanggulangan virus corona malah sering merugikan masyarakat bawah. Seperti ini Balai Jagong, otomatis para pedagang termasuk dirinya akan kehilangan penghasilan.
“Belum lagi pedagang yang punya anak sekolah. Selain memikirkan penghasilan untuk hidup sehari-hari. Kan juga memikirkan harus beli kuota untuk anak sekolah online. Jadi tolonglah pikirkan juga nasib orang bawah seperti kami ini,” harapnya.
Hal yang sama juga disampaikan Karsono. Pria yang kesehariannya berjualan cilok itu mengeluh dengan ditutupnya Balai Jagong Kudus. Menurutnya, Balai Jagong adalah lokasi favoritnya berjualan. Sebab setiap harinya mulai pagi di tempat tersebut sudah didatangi warga Kudus untuk berolahraga, maupun untuk bersantai. Sehingga dagangannya selalu laris.
Dengan ditutupnya Balai Jagong, Karsono terpaksa harus berjualan keliling untuk menjajakan ciloknya. Bayangan penghasilannya turun pun sudah mengahantui pikirannya. Sebab, berjualan keliling tidak jelas tujuannya. Sehingga ia hanya mengandalkan untung-untungan. Berkeliling berharap ada yang beli.
Baca juga: Disdag Larang Ada Pelayan Seksi di Balai Jagong Kudus
“Lha gimana lagi, sekolah belum pada buka, tempat wisata dan keramaian ditutup semua. Jalan satu-satunya ya keliling sambil berharap ada yang beli cilok saya,” ungkap Karsono.
Karsono mengaku, datang dari Cilacap merantau ke Kudus berjualan cilok ikut orang dengan sistem setoran. Biasanya, sehari ia bisa mendapatkan penghasilan bersih sekitar Rp 70 ribu. Kalau Balai Jagong ditutup, kemungkinan penghasilannya akan turun jadi Rp 40 ribu sehari.
“Saya berharap penutupan Balai Jagong tidak lama. Kalau terlalu lama tutup kasih kami rakyat kecil. Penghasilan berkurang, sedangkan anak istri juga butuh biaya untuk makan,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

