BETANEWS.ID, KUDUS – Pasar Kliwon Kudus merupakan pusat grosir hasil konveksi terbesar kedua di Jawa Tengah. Dengan adanya pasar tersebut, banyak warga Kudus yang merintis usaha konveksi, yang hasil produksinya dijual di Pasar Kliwon, termasuk aneka baju muslim. Namun sayangnya, beberapa tahun terakhir, para pemilik usaha konveksi baju muslim di Kota Kretek mulai enggan menyuplai atau menjualnya di Pasar Kliwon dengan berbagai alasan.
Satu di antaranya adalah produk gamis Kudus bermerek Taneem. Produsen dari produk ini sudah lama tidak menyuplai ke Pasar Kliwon. Naufal Haidar (24), selaku manager Taneem mengatakan, dulu produk baju muslim dari konveksi keluarganya disetor ke beberapa pedagang di Pasar Kliwon. Namun sekarang sudah tidak lagi. Sejak ada pemasaran online, para produsen pakaian muslim termasuk Taneem, lebih suka memasarkannya melalui media daring.

Baca juga : Produksi Busana Muslim di Kudus Alami Lonjakan Sejak Tiga Bulan Sebelum Ramadan
“Sekarang pemasaran kami lebih fokus ke online. Kalau dulu memang pernah setor ke Pasar Kliwon, tapi sekarang sudah tidak. Sebab berisiko, dan sistem pembayarannya kan tempo,” ujar pria yang akrab disapa Naufal kepada Betanews.id, Senin (19/4/2021).
Naufal berdalih, menyetor pakaian ke pedagang di Pasar Kliwon pembayarannya kebanyakan sistem tempo, tidak langsung lunas. Kemudian, belum jelas pembayarannya nanti mundur atau tidak dari hari yang telah dijanjikan. Tentu hal itu berisiko terhadap kelancaran produksi. Apalagi kalau tagihan macet, bisa pusing dan bisa rugi.
Hal itu, tuturnya, berbeda dengan penjualan melalui media daring. Di mana, uang konsumen ditransfer terlebih dulu, baru kemudian pihaknya kirim gamis yang dipesan oleh pelanggan.
“Di zaman sekarang, pengusaha konveksi termasuk produksi pakaian muslim, beralih ke penjualan online. Pembayarannya aman daripada setor langsung ke padagang di pasar,” bebernya.
Hal senada juga diungkap oleh owner gamis dan jilbab Ribbie, yakni Maulida Arifyani (30). Sejak awal produksi gamis dan jilbab, Ribbie tidak pernah dikirim ke Pasar Kliwon Kudus. Menurutnya, selain pembayaran tempo, harga beli para pedagang di Pasar Kliwon sangat murah. Sehingga ia pun lebih memilih menyuplai ke pasar lainnya di Pulau Jawa.
“Sebenarnya permintaan dari pedagang di Pasar Kliwon itu ada, tapi harganya terlalu murah. Jadi kami yang tidak mau. Pembayarannya sudah tempo, murah lagi, salah – salah bisa babak belur,” ujar perempuan yang biasa disapa Arik tersebut.
Dia menuturkan, selama ini memasarkan produk gamis dan jilbab Ribbie melalui media daring. Dengan merekrut agen reseller, jangkauan penjualannya malah lebih luas. Pembayarannya juga tunai serta harga dia yang menentukan. Meski begitu, Ribbie juga dipasarkan secara konvensional, tapi memang ia memilih yang harganya sesuai keinginannya dan pembayarannya tunai.
“Pemasaran kami memang tidak sepenuhnya daring. Kami tetap menjual produk kami ke pedagang. Namun memang tidak ke pasar Kliwon. Kami lebih memilih pelanggan yang berani beri harga sesuai keinginan kita, dan pembayarannya cash,” jelasnya.
Baca juga : Ini Tren Busana Muslim yang Digandrungi Mama Muda untuk Lebaran 2021
Linda pemilik usaha konveksi sekaligus penjual Gamis Al Fath di Pasar Kliwon Kudus mengakui, bahwa produksi pakaian muslim di Kudus yang disuplai ke Pasar Kliwon Kudus memang berkurang terus tiap tahunnya. Sekarang paling hanya lima persen pemilik usaha konveksi di Kudus yang mengirim hasil produksinya ke Pasar Kliwon Kudus.
“Ya tiap tahun pengusaha konveksi yang setor ke pedagang di Pasar Kliwon Kudus terus menurun. Paling yang bertahan ini seperti saya, yang selain setor juga ada kios,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

