BETANEWS.ID, SOLO – Minat Warga Jateng untuk ikut program keluarga berencana (KB) yang merosot selama pandemi disikapi serius Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Solo menggenjot partisipasi peserta KB lewat serangkaian acara termasuk dalam momentum peringatan Hari Kartini.
Kepala DPPKB Kota Solo, Purwanti menjelaskan, selama pandemi atau 2020 lalu, angka partisipasi KB pasangan usia subur (PUS) di Solo hanya 56 persen dari target 8.000 PUS. Menurutnya, engganya warga mengikuti KB ini karena mereka takut ke fasilitas kesehatan saat awal-awal pandemi.
“Salah satu alasannya orang-orang takut ke failitas kesehatan, meski di faskes kita sudah jaga dengan protokol kesehatan ketat. Tapi di awal-awal dulu itu memang masyarakat pada takut,” ungkapnya, Rabu (21/4/2021).
Baca juga: Hari Kartini Diperingati Selvi Ananda dengan Blusukan Sosialisasi Pentingnya KB
Untuk menggenjot partisipasi KB ini, pihaknya menggalakkan sosialisasi dan penerimaan akseptor KB memanfaatkan momen hari besar nasional di masing-masing kelompok masyarakat. Harapannya, dari perkumpulan itu bisa mengirimkan ibu-ibu belum KB dan juga PUS belum KB
“Kita menggerakkan di momen-momen peringatan hari besar nasional seperti hari Kartini, hari ibu, kemudian kemarin muslimat NU, Aisiyah dan peringatan hari besar lainnya,” beber Purwanti.
Dengan berbagai upaya ini, angka partisipasi KB di kota yang dipimpin Gibran Rakabuming Raka ini sudah mencapai 18 persen dari target 2021 sebanyak 7800 akseptor KB.
Baca juga: Mawar Hartopo Prihatin dengan Maraknya Pernikahan Dini di Kudus
Menurut Sub Koordinator KB jalur Pemerintah Swasta BKKBN Jawa Tengah, Mirojul Hari Riyyah, angka partisipasi KB yang rendah di Jateng itu hanya terjadi di awal-awal pandemi sekitar Maret hingga Mei 2020. Setelah itu, berbarengan dengan momentum hari keluarga nasional di Juni, angkanya terus meningkat dan konsisten hingga saat ini.
“Ini berarti masyarakat sudah mulai kembali datang ke pelayanan meskipun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau dulu kan sampai baksos banyak sekali. Kalau sekarang lebih ke teratur jadi dalam arti sehari ada lima akseptor KB yang diatur waktunya tapi pelayanannya terus berkelanjutan,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

