BETANEWS.ID, KUDUS – Di pekarangan belakang rumah Desa Undaan Kidul Gang 11, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, tampak bangunan kandang ayam kalkun. Di area kandang tersebut, terlihat seorang pria sedang memberi makan indukan ayam kalkun dan anaknya. Pria tersebut yakni Fauzi Mahfud (52) peternak kalkun.
Seusai selesai memberikan makan peliharaannya, pria yang akrab disapa Fauzi itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai beternak ayam kalkun sejak dua tahun yang lalu. Menurutnya, sebelum terjun di usaha peternakan kalkun, ia terlebih dulu bekerja jadi sopir selama 10 tahun.

Pada awal merintis, Fauzi membeli anakan ayam kalkun 40 ekor umur sepekan. Kemudian dirawatnya selama tujuh bulan hingga mulai bertelur. Selama tujuh bulan menunggu ayam kalkunnya bertelur ia menyibukkan diri mempersiapkan kandang. Serta sesekali juga menerima order sopir pocokan untuk carteran wisata.
Baca juga: Harga Sentuh Rp 5 juta per Ekor, Suyatno Bagikan Tips Sukses Ternak Ayam Kalkun
“Dari 40 ekor ayam kalkun sekarang tersisa 34 ekor. Ayam kalkun saya itu saya kandang dan saya sekat per ruangan empat ekor. Satu ekor jantan dan tiga ekor betina,” bebernya.
Dia mengaku beternak kalkun khusus menjual anakannya saja. Dari indukan 34 ekor tersebut, setiap pekannya ia mampu menjual lebih dari 50 ekor anakan kalkun. Untuk harga, anakan kalkun tersebut ia jual dengan harga mulai Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu per ekor. Harga tersebut tergantung umur anakan kalkun.
“Harga tersebut kalau beli borongan. Kalau ecer harganya lebih mahal Rp 5 ribu per ekor,” ungkapnya.
Dia mengatakan, ternak ayam kalkun itu sangat menguntungkan. Sebab pakannya bekatul bisa dioplos dengan eceng gondok. Bahkan porsi campurannya, satu kilogram bekatul dengan 10 kilogram eceng gondok. Jadi sangat irit. Hal itu tentu berbeda dengan ternak ayam kampung yang pakannya harus bekatul semua.
Baca juga: Cegah Kanker Hingga Turunkan Berat Badan dengan Olahan Kalkun di Resto Raos Eco
“Harga ayam kalkun juga lebih mahal dari pada ayam kampung. Namun, yang lebih menguntungkan itu ternak ayam kalkun spesialis jual anakannya saja, seperti yang saya lakukan ini. Sebab perputaran uangnya lebih cepat. Kemudian ayam kecil atau anakan porsi makannya sangat irit,” jelas Fauzi.
Menurutnya, selama ini pemasaran anakan kalkun ada bakul yang mengambil. Ia mengaku punya beberapa bakul dari beberapa daerah, di antaranya Pati, Jepara, Demak, dan lainnya. Namun, kata dia, bakul yang paling banyak membeli anakan kalkunnya itu bakul dari Pati. Bahkan, hampir semua peternak kalkun di Pati itu beli bibit kalkunnya dari Fauzi.
“Saya bersyukur ternak kalkun yang saya tekuni sudah terlihat hasilnya. Rencana ke depan saya akan memperluas kandang indukan agar bisa menghasilkan lebih banyak anakan kalkun,” harapnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

