BETANEWS.ID, KUDUS – Suara riuh tawa anak – anak dan suara obrolan terdengar berisik di dalam tempat pengungsian Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Ratusan warga terlihat duduk dan tiduran di tikar. Serta ada pula yang berada di bilik yang disediakan. Di salah satu bilik, tampak seorang pria paruh baya sedang mengobrol dengan istri dan anaknya. Pria tersebut yakni Bambang Hadi Mulyono (66) warga korban banjir yang tinggal di pengungsian.
Dia menuturkan, sudah sekitar dua pekan keluarganya mengungsi akibat banjir. Kalau dirinya baru menyusul mengungsi di pengungsian sepekan yang lalu. Meski begitu, ia mengaku sudah mulai bosan. Tidak hanya itu, rasa jenuh pun menghinggapi setiap hari selama di pengungsian.

Baca juga : Dua Pekan Banjir Kudus Belum Surut, 632 Orang Masih Bertahan di Pengungsian
“Sudah jenuh dan bosan di pengungsian. Tidak bisa ngobrol dengan tetangga dekat. Serta di pengungsian tidak bisa ngapa – ngapain kok,” ujar pria yang akrab disapa Bambang kepada Betanews.id, Senin (15/2/2021).
Pria yang tercatat sebagai warga Dukuh Tanggulangin itu mengatakan, meski sudah bosan dan jenuh, tapi ia tidak bisa berbuat apa pun. Sebab saat ini rumahnya masih terendam banjir setinggi sepinggang orang dewasa. Apalagi menurut informasi hari ini banjir malah naik lagi.
“Sebenarnya kemarin banjir sudah mulai surut, tapi karena semalam hujan hari ini air banjir naik lagi. Saya pingin banjir lekas surut dan saya pingin cepat pulang ke rumah,” bebernya.
Dia mengungkapkan, keinginannya agar banjir cepat surut dan ia lekas pulang ke rumah, karena banyak perabot rumah yang terendam banjir. Menurutnya, saat banjir terjadi ia sedang merantau. Sedangkan yang ada di rumah saat itu istri dan anaknya. Sehingga saat air banjir masuk rumah, anak dan istrinya mengungsi dan banyak perabot yang belum dievakuasi.
“Banyak barang – barang keluarga kami yang terendam banjir. Perabot, pakaian, kasur dan lainnya. Kalau lama terendam takutnya nanti malah busuk,” ungkapnya.
Dia mengatakan, sebenarnya hidup di pengungsian semuanya terjamin. Termasuk makan tiga kali sehari, selimut, peralatan mandi dikasih semua. Bahkan tim kesehatan juga disediakan, dan siap melayani para pengungsi setiap waktu.
“Kalau urusan logistik terpenuhi semua. Selimut dan peralatan mandi pun di kasih. Namun, harapan saya semoga banjir cepat surut dan secepatnya bisa pulang ke rumah,” harapnya.
Hal senada juga dikatakan oleh pengungsi lainnya yakni Lilik. Perempuan yang sedang masa menyusui Balitanya tersebut menuturkan, untuk sarana dan prasarana di pengungsian sangat bagus. Makan sehari tiga kali, bantuan susu serta fasilitas untuk para ibu menyusui juga disediakan. Namun, kata dia, harapannya adalah agar banjir segera surut.
“Hampir dua pekan di pengungsian semua terjamin. Logistik dan kebutuhan lain terpenuhi. Bahkan ada ruangan untuk pemberian asi untuk balita juga disediakan. Tapi saya pingin agar banjir cepat surut dan saya bersama keluarga bisa pulang ke rumah,” harap perempuan yang tercatat sebagai warga Dukuh Gendok tersebut.
Baca juga : Sebanyak 576 Warga Kudus di 3 Kecamatan Mengungsi Akibat Banjir
Terpisah, Kepala Desa Jati Wetan yakni Suyitno menuturkan, harapan warganya agar banjir cepat surut kayaknya harus dipendam dulu. Apalagi saat ini debit air Sungai Wulan naik lagi. Sehingga pintu Sungai Wulan yang dijadikan akses mengalirkan air banjir tidak bisa dibuka. Sebenarnya sudah ada pompa tapi dengan debit air yang begitu banyak, penyedotan air banjir tidak begitu maksimal.
“Sebenarnya sekarang sudah ada tiga pompa di Tanggulangin. Namun, karena debit air banjir yang begitu banyak proses penyedotan tidak bisa maksimal. Padahal seandainya air Sungai Wulan surut dan pintu sungai bisa dibuka, paling tiga hari air banjir akan habis tuntas ke Sungai Wulan,” jelasnya.
Editor : Kholistiono

