BETANEWS.ID, KUDUS – Bencana tanah longsor tahun 2020 di Kabupaten Kudus dipastikan lebih banyak dari 2019. Hingga Agustus, jumlah kasus bencana tanah longsor sudah terjadi 25 kali, sedangkan sebelumnya hanya sembilan kali sepanjang tahun.
Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kudus Wiyoto menuturkan, sesuai catatan kebencanaan, 25 kasus tanah longsor tersebut terjadi dari periode Januari hingga Agustus 2020. Menurutnya, dari bulan September 2020 hingga sekarang belum ada rekapitulasi.

“Itu terjadi di (kecamatan) Gebog dan Dawe, karena daerah gunung banyak pemukiman di sana. Senin (12/10/2020) kemarin juga ada longsor di (Desa) Soco. Ada dua orang yang tertimbun,” tuturnya saat ditemui di Kantor BPBD Kudus, Senin (12/10/2020).
Baca juga: Waspada! Tujuh Kecamatan di Kudus Rawan Bencana Saat Musim Hujan
Wiyoto menjelaskan, untuk desa rawan longsor yang berada di Kecamatan Gebog yakni Dukuh Kambangan, Desa Menawan dan Desa Rahtawu. Sementara, Kecamatan Dawe yakni Desa Japan dan Soco.
“Daerah rawan itu berada di pegunungan Muria. Tekstur tanahnya gembur. Selain itu airnya yang datang itu langsung meresap ke dalam tanah dan cenderung mengalir lewat bawah, bukan atas,” terangnya.
Menurut data yang dimiliki BPBD Kudus, tanah longsor tahun 2019 terjadi pada bulan Januari hingga Maret. Sedangkan tahun 2020 dari bulan Januari hingga April. Menurut Wiyoto, saat ini Indonesia sedang terjadi fenomena La Nina. Artinya, curah hujan akan mengalami intensitas lebih tinggi. Terbukti awal bulan Oktober 2020 hujan sudah turun dan ada kasus longsor di Desa Soco.
“Sesuai informasi dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) ada fenomena La Nina. Akibatnya hujan intensitas lebih tinggi dari tahun kemarin,” jelasnya.
Baca juga: 4 Daerah Termasuk Kudus Rawan Bencana, Ganjar: ‘Daerah Mesti Siaga, Jangan Nunggu Perintah’
Selain longsor, dari data BPBD Kudus, banjir pada tahun 2019 sudah terjadi di 28 titik. Sedangkan tahun 2020 yakni 21 titik. Untuk angin cepat tahun 2019 yakni 78 titik, sedangkan tahun 2020 yakni 29 titik.
“Yang tahun 2020 data per bulan Agustus,” tambahnya.
Pihaknya meminta masyarakat selalu waspada terkait adanya bencana yang bisa datang kapan saja. Menurutnya, BPBD Kudus sudah memiliki relawan di setiap desa dan kecamatan. Agar bila terjadi bencana pihaknya bisa merespon lebih cepat.
“Relawan banyak. Dari desa-desa juga ada. Dari forum relawan BPBD juga ada. Jadi sekarang kami membina di desa untuk jadi desa tangguh bencana,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

