BETANEWS.ID, PATI – Beberapa perempuan tampak sedang mengambil daun kelor di pekarangan sebelah rumah di Desa Kedung Bulus RT 1 RW 1, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Setelah dirasa cukup, daun tersebut kemudian dicuci dan dijemur. Sedangkan di teras samping rumah tampak beberapa perempuan sedang memasukan daun kelor kering ke dalam kemasan. Satu di antara perempuan itu yakni Muryati (44) pemilik usaha produksi Teh Daun Kelor Mahakarya Mulya.
Di tengah aktivitasnya tersebut, perempuan yang akrab dengan sapaan Yati itu sudi berbagi kisah merintis usaha berbasis daun kelor sejak 2010. Sejak kecil, Yati mengaku sudah dikasih tahu orang tuanya tentang khasiat dari daun kelor untuk kesehatan. Namun, untuk penyajiannya saat itu hanya diolah jadi sayur saja.

“Setelah ada internet itu, saya mempelajari secara rinci khasiat dari daun kelor. Dari situ pula saya punya ide untuk membuat teh dari daun kelor,” ujar Yati kepada Betanews.id, Kamis (8/10/2020).
Baca juga: Cegah Kanker Hingga Turunkan Berat Badan dengan Olahan Kalkun di Resto Raos Eco
Perempuan yang sudah dikaruniai empat anak itu menuturkan, pilihan mengolah daun kelor jadi teh, karena teh sudah sangat familiar di masyarakat Indonesia bahkan dunia. Hampir semua orang kenal dan pasti banyak yang doyan teh. Bahkan sekarang ada teh kemasan botol dan gelas langsung minum. Oleh sebab itu, ia memilih mengolah daun kelor menjadi teh. Meski sekarang dia punya beberapa produk olahan lainnya dari daun kelor.
Dia mengatakan, selama ini produksi teh daun kelor diolah dengan cara tradisional. Sehingga nutrisi yang terkandung di dalam daun bernama latin Moringa Oleifera Lam itu masih terjaga. Contoh, pemanenan daun kelor itu dilakukan pagi hari sebelum matahari beranjak naik. Serta segera mungkin diolah agar daun masih dalam kondisi segar.
Untuk penjemuran atau pengeringan daun kelor itu juga tidak boleh di atas pukul 09.00 WIB. Semua dilakukan pada pagi hari. Oleh sebab itu, pengeringan daun kelor bisa butuh waktu tiga hari sampai sepekan, baru kemudian bisa dikemas. Menurutnya, teh daun kelor tersedia dalam dua kemasan, yakni kemasan pouch berisi teh daun kelor tubruk. Serta kemasan karton bulat berisi 25 pak teh daun kelor celup.
“Untuk harga itu berbeda, ya. Untuk kemasan pouch itu kami banderol Rp 15 ribu. Sedangkan kemasan karton bulat berisi 24 teh celup itu harganya Rp 25 ribu,” jelasnya.
Baca juga: Kaya Manfaat Kesehatan, Stik Waluh Buatan Mia Laris di Pasaran
Perempuan yang saat itu mengenakan kaus oblong hitam itu kemudian merinci khasiat teh daun kelor yang diproduksinya. Antara lain, sebagai suplemen makanan, sumber energi alami, untuk kecantikan kulit, sumber asam amino, sumber zat besi, anti oksidan dan anti inflamasi, untuk kesehatan ginjal, anti kanker, penyedia nutrisi pencernaan/lambung, sumber betakaroten, untuk gizi ibu hamil dan menyusui, serta untuk kesehatan rambut.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan beberapa kegunaan teh daun kelor. Di antaranya, untuk mengobati mata rabun, mencegah penyakit jantung, mengobati penyakit kuning, menjaga berat badan, menghilangkan flek wajah dan menghilangkan garis di wajah. Bisa juga melindungi kesehatan otak, mengatasi diabetes, memperlambat penuaan, meningkatkan kesehatan, dan menurunkan tekanan darah atau kolesterol.
“Serta bisa jadi pelindung diri dari bakteri, mengobati rematik, dan asam urat. Dan yang penting itu bisa meningkatkan imun tubuh. Oleh sebab itulah, di masa pandemi permintaan teh daun kelor meningkat hingga 300 persen,” bebernya.
Baca juga: Tak Hanya Sirup, Sumarlan juga Buat Teh Parijoto yang Kini Banyak Digemari Konsumen
Di mengatakan, selama ini pemasaran teh daun kelor melalui media sosial dan jaringan reseller. Pelanggan, kata dia, meliputi seluruh kota-kota besar di Indonesia. Di antaranya, Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta, Kalimantan, Palembang, Sulawesi, dan kota besar lainnya.
“Semoga teh daun kelor makin diminati untuk jaga kesehatan. Sebab untuk jaga kesehatan itu tidak harus mahal dan berat. Cukup konsumsi teh daun kelor, murah harganya, banyak manfaatnya,” tutup Yati.
Editor: Ahmad Muhlisin

