Menengok Budidaya Udang Galah di Lereng Gunung Muria, Diklaim Terbesar se-Indonesia

BETANEWS.ID, KUDUS – Siapa sangka di kawasan lereng Gunung Muria dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepatnya di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berkembang budidaya udang galah berskala besar. Bahkan, Ngramen Farm mengklaim menjadi sentra pembibitan dan budidaya udang galah terbesar di Indonesia.

Founder Ngramen Farm, Rio Krisdian, mengatakan budidaya udang galah tersebut mulai dirintis pada 23 Desember 2024 dengan mendatangkan sekitar 150 hingga 200 indukan dari Bandung, Jawa Barat.

Pada awal pengembangan, banyak masyarakat yang meragukan keberhasilan budidaya udang galah di kawasan pegunungan. Sebab, selama ini udang galah identik dibudidayakan di daerah dataran rendah atau kawasan perairan yang lebih hangat.

-Advertisement-

“Awalnya, semua orang melihat aneh, ada udang di atas gunung dengan ketinggian sekitar 600 mdpl. Banyak yang tidak percaya, terutama warga sekitar. Tapi sekarang terbukti udang di sini bisa hidup dan tumbuh dengan baik,” katanya di lokasi.

Rio menjelaskan, fokus utama Ngramen Farm saat ini bukan pada penjualan hasil panen konsumsi, melainkan memperbanyak indukan untuk mendukung produksi bibit dalam jumlah besar. Ia menargetkan pada 2027 mampu memproduksi jutaan bibit udang galah setiap tahun. Target tersebut didukung lahan budidaya seluas sekitar 3,8 hektare yang terus dikembangkan.

“Sebenarnya sudah bisa panen dan dijual. Tetapi saat ini kami fokus memperbanyak indukan karena target kami memproduksi ratusan ribu hingga jutaan bibit udang galah. Pada 2027 target kami bisa memproduksi jutaan bibit,” katanya.

Baca juga : Dolar Naik, Perajin Tahu di Kudus Mulai Waswas Harga Kedelai Impor

Jenis yang dibudidayakan adalah udang galah capit biru yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu komoditas unggulan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand.

Untuk mendukung pengembangan bibit, Ngramen Farm juga membangun fasilitas pembenihan sendiri yang dilengkapi laboratorium. Hasilnya, panen bibit perdana telah berhasil dipasarkan dengan penjualan sekitar 1.500 bibit kepada para pembudidaya.

Selain mengembangkan usaha secara mandiri, Ngramen Farm juga membentuk empat kelompok tani yang dibina untuk mengembangkan budidaya udang galah di wilayah sekitar.

“Kami terus mendampingi kelompok tani agar nantinya budidaya ini bisa menjadi salah satu sumber ketahanan pangan dan tambahan penghasilan keluarga,” jelasnya.

Saat ini Ngramen Farm memiliki 18 kolam budidaya. Setiap kolam berdiameter empat meter dan diisi sekitar 2.000 ekor udang galah. Sistem panen yang diterapkan dilakukan secara bertahap atau parsial sebelum panen massal.

Menurut Rio, tantangan terbesar budidaya udang galah di lereng Gunung Muria adalah suhu lingkungan yang relatif lebih rendah dibandingkan habitat ideal udang galah.

“Kalau suhu ideal sekitar 29 derajat Celsius, sedangkan di sini hanya sekitar 24 sampai 25 derajat Celsius. Akibatnya, pertumbuhan udang sedikit lebih lambat dan membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga panen,” terangnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Ngramen Farm menjalin kerja sama dalam upaya pengembangan pendidikan berbasis agro dan penguatan kelembagaan dengan Universitas Islam Negeri Sunan Kudus. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan formulasi pakan dan metode budidaya yang dapat mempercepat pertumbuhan udang.

Ketua Program Studi Tadris Biologi UIN Sunan Kudus, Sanusi, mengatakan pihaknya siap mendukung pengembangan budidaya udang galah melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Tentu kami akan mengembangkan budidaya ini. Kami siap mempelajari berbagai aspek budidaya dan berkolaborasi dengan dosen sesuai bidang keahlian masing-masing untuk mendukung pengembangannya,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER