Dolar Naik, Perajin Tahu di Kudus Mulai Waswas Harga Kedelai Impor

BETANEWS.ID, KUDUS – Kenaikan nilai tukar dolar AS mulai dirasakan para perajin tahu di Kabupaten Kudus. Meski belum memicu kenaikan harga tahu secara langsung, pelaku usaha mulai khawatir apabila harga kedelai impor terus merangkak naik.

Salah satu perajin tahu di Kudus, Suwijiyanto (66), mengatakan kenaikan dolar berdampak pada harga bahan baku kedelai yang digunakan untuk produksi tahu sehari-hari. Usaha tahu miliknya telah berjalan sejak 1995 dan masih bergantung pada kedelai impor.

“Kenaikan kurs dolar menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS tentu membuat harga kedelai ikut mengalami kenaikan. Saat ini harga kedelai hampir menyentuh Rp11 ribu per kilogram,” ujar Anto di pabrik tahu miliknya di Desa Ploso, Kecamatan Jati, belum lama ini.

-Advertisement-

Meski kurs dolar naik signifikan, tuturnya, kondisi tersebut masih relatif aman bagi perajin tahu di Kudus. Sebab, ambang harga kedelai yang mulai memberatkan pelaku usaha berada di kisaran Rp12 ribu per kilogram.

“Kalau sekarang memang ada pengaruh, tapi masih aman. Kenaikan ini sebenarnya sudah terasa sejak bulan Ramadan lalu,” bebernya.

Baca juga : Kenaikan Harga Plastik Capai 90 Persen, Pedagang di Jepara Cuma Bisa Pasrah 

Meski biaya bahan baku mulai naik, Anto mengungkapkan hingga kini masih mempertahankan harga jual. Menurutnya, di Kudus kenaikan harga kedelai tidak serta-merta membuat harga tahu ikut naik.

“Sebab kami menggunakan ambang batas atas dan bawah. Meski harga kedelai saat ini naik, tetapi belum melampaui harga atas yang kami tentukan, yakni hampir Rp12 ribu per kilogram. Jadi, harga jual tahu kami juga masih tetap,” sebutnya.

Ia menuturkan, untuk saat ini harga tahunya masih Rp35 ribu per papan. Satu papan tahu berukuran sekitar 50 sentimeter dengan ketebalan sekitar dua sentimeter.

“Terkait jumlah irisan dalam satu papan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pembeli,” ungkapnya.

Dalam sehari, tempat usaha milik Suwijiyanto mampu menghabiskan tiga hingga empat kuintal kedelai untuk produksi tahu. Produksi tersebut masih berjalan normal karena stok kedelai impor dinilai aman dan distribusi belum mengalami kendala.

Namun demikian, para perajin mulai mempertimbangkan penyesuaian harga apabila kenaikan harga kedelai terus terjadi. Mereka khawatir kenaikan biaya produksi akan semakin menekan keuntungan usaha kecil.

Anto berharap pemerintah dapat memperkuat program swasembada kedelai agar pelaku usaha kecil tidak terus bergantung pada impor. Menurutnya, kestabilan harga bahan baku menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha tahu tradisional.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER