BETANEWS.ID, JEPARA – Jalur alternatif dari Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling menuju Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara resmi dibuka pada Sabtu (23/5/2026).
Jalur alternatif itu memiliki panjang enam kilometer dan berada di lereng Gunung Muria. Saat ini kondisi badan jalan masih berupa material tanah dan bebatuan sehingga hanya bisa dilewati oleh beberapa jenis kendaraan.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan mengingat kondisi badan jalan yang belum sepenuhnya keras, jalur tersebut saat ini baru bisa dilewati oleh warga sekitar yang sudah memahami kondisi jalan.
Sedangkan untuk wisatawan yang hendak menuju Desa Tempur, diimbau untuk melewati jalur utama terlebih dahulu.
“Akses jalan kalau untuk orang-orang sini yang sudah paham jalan sudah bisa, tapi kalau untuk wisatawan saya imbau jangan lewat sini dulu karena medannya masih sangat terjal,” imbau Wiwit saat ditemui di lokasi jalan alternatif Duplak-Sumanding.
Sebagai tindak lanjut pengerjaan jalan, Wiwit mengatakan pada tahun ini pihaknya sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp500 juta untuk pengerasan bahu jalan.
Pengerjaan itu akan dilakukan setelah Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara.
“Setelah ini akan kita lakukan pengerjaan pengerasan bahu jalan. Anggarannya sudah kita siapkan di APBD Perubahan,” ujar Wiwit.
Wiwit mengatakan, lahan tersebut saat ini masih berstatus milik Perhutani. Untuk itu, pihaknya sedang mengajukan dokumen perizinan.
Jika pada tahun 2027 dokumen perizinan itu sudah keluar, perencanaan penanganan jalur alternatif Sumanding-Duplak baru akan dilakukan secara menyeluruh.
Dengan demikian, jalur tersebut diprediksi baru sepenuhnya bisa dilewati seluruh jenis kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, pada tahun 2028 mendatang.
“2028 mungkin baru bisa beroperasi sepenuhnya. Karena tahun 2027, saat proses perizinannya nanti selesai, kita bisa lakukan penganggaran sesuai kebutuhan,” kata Wiwit.
Selain sebagai jalur alternatif, jalur Sumanding-Duplak juga disiapkan sebagai jalur darurat untuk penanganan bencana.
“Jalur ini juga kita siapkan untuk mitigasi bencana. Mengantisipasi bencana tanah longsor kemarin, satu minggu alat berat baru bisa masuk ke Desa Tempur karena jalan aksesnya terputus. Sehingga misalnya nanti ada bencana lagi, akses alat berat untuk masuk bisa lebih mudah,” jelasnya.
Di sepanjang jalur tersebut, Wiwit mengatakan juga terdapat enam titik lokasi strategis yang bisa dijadikan sebagai lokasi wisata. Hal itu diharapkan dapat menambah destinasi wisata di Desa Tempur.
Editor: Kholistiono

