Dinantikan Warga Selama Puluhan Tahun, Jalur Duplak-Sumanding Akhirnya Terbuka

BETANEWS.ID, JEPARA – Kabut tipis menyelimuti kawasan lereng Pegunungan Muria, menemani peresmian pembukaan jalur darurat dari Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, hingga Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, pada Sabtu (23/5/2026) pagi.

Peresmian jalur darurat yang menghubungkan dua desa di dua kecamatan itu disambut antusias warga sekitar. Mereka hadir mulai dari titik peresmian di Dukuh Duplak hingga Bukit Bejagan yang menjadi jalur paling ekstrem di sepanjang jalur darurat tersebut.

Jatmiko (56), Ketua RW 6 Dukuh Duplak, Desa Tempur, bercerita bahwa pembukaan jalur darurat tersebut sudah puluhan tahun dinantikan warga. Sebab, akses menuju Desa Tempur dulunya sangat sulit karena lokasinya berada di bawah kawasan Pegunungan Muria.

-Advertisement-

Kemudian pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Desa Tempur pernah direncanakan mendapat bantuan pembangunan jalan Inpres. Lokasi yang dulu direncanakan berada di jalur darurat yang saat ini berhasil dibuka.

Jalur itu dulunya merupakan akses utama warga untuk mendistribusikan hasil pertanian. Selain itu, banyak warga Dukuh Duplak yang masih memiliki hubungan keluarga dengan warga di Desa Sumanding maupun Desa Kunir, Kecamatan Kembang.

“Tapi dulu setelah disurvei, medannya di jalur Sumanding-Duplak sangat sulit. Akhirnya akses menuju Desa Tempur dipindah dari Desa Damarwulan ke Dukuh Tempur,” ujar Jatmiko saat ditemui di lokasi Bukit Bejagan.

Jatmiko melanjutkan, warga kemudian mencoba membuka jalur darurat tersebut secara mandiri. Hingga akhirnya terkumpul dana sekitar Rp300 juta dari Pemerintah Desa Tempur dan Sumanding untuk membuka jalur tersebut.

“Sudah pernah terbuka sekitar satu kilometer dan bisa dilalui mobil, tapi akhirnya gagal lagi. Total sudah tiga kali usaha untuk membuka jalur Duplak-Sumanding,” ungkap Jatmiko.

Dengan berhasil dibukanya jalur Duplak hingga Sumanding, menurutnya hal itu sangat membantu warga untuk memotong waktu maupun jarak tempuh.

Jatmiko mengatakan, dulu warga biasanya berjalan kaki melewati jalur darurat tersebut selama sekitar tiga jam.

Jika melewati jalur utama Desa Tempur melalui Desa Damarwulan, jarak tempuhnya sekitar 27 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar satu jam.

“Harapan kami sebenarnya sangat tinggi, jalur ini sangat diharapkan warga. Cuma memang medannya berat, jadi harus ada upaya supaya saat dilewati nanti bisa nyaman,” harap Jatmiko.

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan mulai hari ini jalur darurat tersebut sudah bisa dilalui warga. Kondisi medannya, menurutnya, sudah cukup bagus.

Hanya saja, karena kondisi badan jalan masih berupa material tanah dan bebatuan, jalur tersebut baru bisa dilewati warga sekitar yang sudah memahami medan jalan.

“Hari ini jalurnya sudah tembus. Kondisinya lumayan bagus. Tapi memang masih butuh pengerasan dan pelebaran jalan supaya bisa menjadi landasan badan jalan,” jelas Wiwit.

Terkait pengerasan badan jalan, Wiwit mengatakan pengerjaannya direncanakan dilakukan tahun ini. Anggaran yang disiapkan sebesar Rp500 juta dari Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER