BETANEWS.ID, JEPARA – Merekam, mengedit, lalu mengunggah foto dan video ke media sosial selama tiga tahun terakhir sudah menjadi aktivitas baru bagi Anita Sari (34), warga Desa Wonorejo RT 12 RW 3, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara. Aktivitas itu dilakukan di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan mengurus dua anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Konten TikTok yang dibuat Anita berisi promosi kue leker bernama Leker Yahuud, usaha makanan jadul yang dirintis suaminya pada 2022 setelah diberhentikan dari perusahaan akibat pengurangan karyawan. Suaminya kemudian berjualan leker menggunakan gerobak motor di Kecamatan Bangsri hingga sekarang.
Dua tahun berjalan, Anita mulai merambah penjualan secara online. Ide itu muncul saat masih ada sisa adonan basah yang tidak habis terjual. Anita akhirnya mengolah adonan tersebut menjadi leker kering. Awalnya, ia hanya menitipkan produk di toko sambil melakukan promosi melalui WhatsApp (WA). Baru pada akhir 2024, Anita mencoba membuat konten di TikTok dengan mencantumkan nomor WA.
Promosi itu ternyata banyak mendatangkan pelanggan baru. Dari yang awalnya hanya memproduksi dua kilogram adonan leker per hari, kini meningkat menjadi sekitar tiga hingga empat kilogram per hari.
“Saya bikin kontennya waktu senggang, setelah ngantar anak sekolah, kalau pas di rumah sendirian, atau malam. Dulu awal-awal bikin konten cuma foto atau video saya kasih tulisan. Terus saya belajar edit video, belajar bikin stiker dari lihat video di TikTok, belajar sendiri,” tutur Anita kepada Betanews.id, Rabu (20/5/2026).
Selain membantu suaminya berjualan leker, Anita yang sejak 2018 sudah berjualan barang-barang promo, tertarik mengikuti kelas pelatihan UMKM yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI Jepara.
Saat mengikuti pelatihan selama hampir 4,5 jam, Anita mengaku senang karena bisa belajar langsung dengan afiliator TikTok, Ferry Setyawan. Pengemasan materi yang disertai praktik membuat Anita lebih mudah memahami materi yang disampaikan.
“Senang sih ikut pelatihan UMKM, karena kalau belajar sendiri kan kurang semangat. Materinya juga saya bisa langsung paham dan bisa langsung dipraktikkan karena dicontohkan juga kemarin,” ujar Anita.
Anita bukan satu-satunya peserta dalam pelatihan tersebut. Terdapat 24 pelaku UMKM lain dari sektor makanan, pakaian, dan kerajinan yang menjadi peserta. Mereka ada yang sudah aktif memanfaatkan pasar online dan ada pula yang belum.
Pengelola Rumah BUMN BRI Jepara, Ahmad Aifal Muallif mengatakan, pelatihan bertema “Affiliate Growth Bootcamp: Riset Produk, Konten Viral, dan Strategi Live Selling” itu diadakan sebagai upaya BRI untuk mendorong UMKM agar lebih melek teknologi dan mampu bersaing di era digital. Selain itu, pelatihan juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mendapatkan penghasilan melalui affiliate dan pemasaran digital.
“Harapan kami, pelatihan ini bisa membantu UMKM agar mampu memanfaatkan platform digital untuk meningkatkan penjualan, memperluas jangkauan pasar, dan membangun branding produk secara lebih modern, serta mengubah mindset pelaku usaha bahwa berjualan produk atau jasa perlu adanya riset, konsisten, dan inovasi,” jelas Aifal.
Pesan tersebut juga disampaikan oleh Ferry Setyawan, pemateri dalam pelatihan tersebut. Ferry mengatakan, banyak pelaku UMKM yang masih berpikir bahwa produknya hanyalah produk UMKM kecil sehingga kurang cocok dijual secara online.
Padahal, menurut Ferry, saat ini banyak kreator konten yang mempromosikan barang kebutuhan sehari-hari yang lebih banyak dijual di pasar tradisional melalui konten maupun siaran langsung di TikTok.
“Ketika pelaku UMKM masih berpikir bahwa produknya hanya produk UMKM kecil, maka akan tertinggal,” ujar Ferry saat ditemui usai mengisi pelatihan di Rumah BUMN BRI Jepara, Selasa (19/5/2026).
Untuk itu, Ferry memberikan tips bagi pelaku UMKM yang ingin mulai membuat konten. Pertama, durasi video tidak perlu terlalu panjang. Durasi video TikTok ideal minimal 20–25 detik. Kedua, membuat hook atau kalimat pembuka yang kuat agar penonton tertarik melihat video hingga akhirnya membeli produk yang dijual.
“Ini yang paling penting. Kebanyakan UMKM setelah bikin konten langsung lihat view-nya berapa, padahal FYP itu bonus. Tugas kreator itu membuat konten saja, karena konten yang dibuat saat ini belum tentu FYP sekarang. Mungkin FYP-nya bisa satu atau dua bulan ke depan, bahkan sampai satu tahun, karena konten itu investasi,” jelas Ferry.
Kemudian, bagi pelaku UMKM yang tertarik menjadi afiliator, Ferry juga memberikan sejumlah tips untuk meriset produk yang akan dipromosikan. Yakni memilih produk yang digunakan setiap hari dan mudah ditemukan di sekitar. Setelah itu, cek komisi yang diberikan dengan kisaran 10–15 persen, serta pastikan harga jual di toko offline dan online tidak terlalu jauh.
Setelah mengikuti pelatihan tersebut, Anita mengaku semakin semangat untuk lebih konsisten membuat konten di akun TikTok-nya agar jumlah traffic meningkat dan berdampak pada usaha leker yang dirintisnya. Anita juga berencana mempraktikkan langsung materi terkait riset produk bagi afiliator TikTok.
Editor: Kholistiono

