TBC Masih Serang Warga Jepara, Hingga April 2026 Ada Ratusan Kasus

BETANEWS.ID, JEPARA – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara pada periode Januari hingga 11 April 2026, masih ditemukan ratusan kasus Tuberkulosis (TBC) yang menyerang warga Jepara.

Kepala DKK Jepara, Hadi Sarwoko, menyebutkan total kasus TBC yang ditemukan sebanyak 732 kasus.

Kasus tersebut tersebar di 16 kecamatan. Kecamatan Jepara menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 85 kasus.

-Advertisement-

Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Tahunan dengan 72 kasus dan Kecamatan Bangsri sebanyak 67 kasus.

Kemudian Kecamatan Mayong 63 kasus, Pecangaan 61 kasus, Kedung 58 kasus, dan Mlonggo 54 kasus.

Selanjutnya Kecamatan Welahan 47 kasus, Keling 39 kasus, Kembang 34 kasus, Batealit 32 kasus, Kalinyamatan 31 kasus, Nalumsari 31 kasus, Donorojo 29 kasus, Pakis Aji 26 kasus, dan Karimunjawa 3 kasus.

Hadi menjelaskan, Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ lain seperti kelenjar, tulang, otak, hingga usus.

Baca juga : Puncak Musim Kemarau 2026 Diprediksi Datang Bulan Juli, BPBD Jepara Mulai Lakukan Mitigasi

“Penularannya melalui percikan dahak atau droplet saat penderita TBC aktif batuk, bersin, maupun berbicara,” katanya Senin (18/5/2026).

Ia mengatakan, masyarakat perlu mewaspadai sejumlah gejala TBC, di antaranya batuk terus-menerus selama lebih dari dua minggu, batuk berdahak yang terkadang disertai darah, demam berkepanjangan, dan keringat malam.

Selain itu, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, tubuh lemas, hingga sesak napas pada kondisi tertentu.

“Sedangkan pada anak-anak, gejala yang sering muncul antara lain berat badan tidak naik, tubuh tampak lemas, demam berkepanjangan, batuk terus-menerus, hingga pembengkakan kelenjar,” ujarnya.

Hadi menyebut, dalam upaya pengendalian TBC, DKK Jepara bersama puskesmas, rumah sakit, dan jejaring layanan kesehatan melakukan berbagai langkah strategis.

Di antaranya melalui penemuan kasus aktif dengan skrining masyarakat berisiko, investigasi kontak serumah penderita TBC, serta pemeriksaan dahak dan rontgen bagi suspek TBC.

Selain itu, dilakukan pula pendampingan pengobatan hingga tuntas, pemantauan kepatuhan minum obat, hingga pencegahan putus obat untuk menghindari munculnya TBC kebal obat.

DKK Jepara juga memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat penderita, khususnya anak-anak dan kelompok berisiko tinggi.

“Upaya lainnya dilakukan melalui edukasi masyarakat terkait etika batuk, penggunaan masker bagi penderita TBC aktif, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat,” sebutnya.

Selain itu, pengendalian TBC juga melibatkan kolaborasi lintas sektor dengan menggandeng pemerintah desa, kader kesehatan, rumah sakit, klinik, organisasi profesi, hingga masyarakat.

DKK Jepara turut memperkuat sistem surveilans dan pelaporan kasus TBC nasional, termasuk melakukan evaluasi terhadap capaian penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan.

“Selain penanganan medis, peningkatan gizi dan daya tahan tubuh masyarakat juga menjadi perhatian melalui edukasi konsumsi makanan bergizi dan pendampingan bagi kelompok rentan serta keluarga penderita TBC,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER