Seorang pria tampak melayani pembeli di Jalan Pesarean, Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia terlihat sedang membuat es pisang ijo yang akan dibungkus oleh pembeli. Dia tak lain adalah Ari (28), pria yang mewarisi usaha es pisang ijo dari ibunya.
Pria yang akrab disapa Jendon itu mengaku berjualan es pisang ijo sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA). Dulu ia masih membantu ibunya.
“Kalau dulu gantian yang jualan. Ibu biasanya jualan pagi, nanti siang gantian saya,” ujar Jendon saat ditemui beberapa waktu lalu.
Baca juga: Gunakan Kuah Susu, Soto Betawi Jadi Favorit Baru di Warung Mubarok
Ia bercerita, bahwa sebelum berjualan pisang ijo, ibunya juga pernah berjualan yang lain. Karena tidak cocok akhirnya berganti-ganti dagangan hingga menemukan es pisang ijo.
“Dulu jualannya itu pentol keliling, terus pernah jajan pasar juga. Tapi kahirnya es pisang ijo ini yang cocok. Awal jualan es pisang ijo ini, mangkalnya di selatan Pesarean, belum di sini, dan belum banyak juga yang berjualan,” katanya.
Bahan yang dibutuhkan saat pembuatan es pisang ijo ini sangat sederhana, hanya pisang, gula, dan es batu. Ciri khas dari es pisang ijo ini adalah sirup gula asli buatan sendiri, rasanya ada rasa leci dan jeruk nipis.
“Dulu awal mula jualan, harganya Rp3 ribuan. Mulai 3 tahunan ini harganya naik jadi Rp5 ribu. Cup yang kecil Rp5 ribu, yang original. Untuk yang cup besar kalau pakai topping Rp10 ribu, semua topping Rp10 ribu,” jelasnya.
Menurutnya, selain harganya yang terjangkau, es pisang ijo ini juga bisa membuat pembeli kenyang, karena es pisang ijo ini ada buburnya.
Baca juga: Dari Coba-Coba, Sosis Ayam Solo Siti Ternyata Digandrungi Warga Kudus
“Untuk rasa, sama semua. Yang membedakan hanya topping-nya saja. Kalau mau beda ya nggak pakai bubur, tapi yang paling best seller itu yang pakai bubur. Kadang pada minta ditambahin buburnya, kalau pas buburnya habis, kadang pembelinya nggak jadi beli,” bebernya.
Es pisang ijo buatan Jendon bisa dinikmati dari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB. Tapi biasanya dagangannya sudah habis sebelum jam tersebut.
“Kalau jualannya rame biasanya pukul 16.00 WIB sudah pulang. Kalau sepi ya maghrib baru pulang, tapi Alhamdulillah jualannya selalu habis,” tambahnya.
Penulis: Liana Safitri, Mahasiswa PPL IAIN Kudus
Editor: Ahmad Rosyidi

