Tak Sekadar Jadi Budaya, Puluhan Siswa Perempuan di Jepara Rayakan Hari Kartini dengan Mengukir

BETANEWS.ID, JEPARA – Serambi belakang Pendopo Jepara dipenuhi puluhan siswa perempuan yang mengenakan pakaian kebaya. Dengan sigap, tangan mereka memegang pahat dan palu untuk membuat ukiran khas Jepara.

Total terdapat sekitar 50 siswa perempuan dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ikut mengukir.

Kegiatan tersebut diadakan sebagai bagian dari perayaan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara pada Selasa (21/4/2026).

-Advertisement-

Ketua panitia sekaligus Ketua Paguyuban Ukir Kartini Jepara, Rumini (47), mengatakan pihaknya sengaja memilih siswa perempuan. Selain sebagai momen perayaan Hari Kartini, minat perempuan di Jepara untuk mengukir mulai menurun.

“Saat ini memang minat (perempuan untuk mengukir) minim, sehingga Alhamdulillah dengan dukungan Pak Bupati, dan pas di momen perayaan Hari Kartini kita ajak anak-anak perempuan untuk mengukir,” katanya saat ditemui di serambi belakang Pendopo Jepara.

Rumini ingin seni ukir di Jepara tetap lestari. Sebab, ukir tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sektor yang menggerakkan roda perekonomian di Jepara.

“Ukir harus dilestarikan, karena ukir bukan hanya budaya Jepara, tetapi ukir juga mata pencaharian di Jepara. Ukir itu menjadi kekuatan ekonomi daerah di Jepara,” ujarnya.

Baca juga : Dua Siswi SMPN 3 Kudus Dipanggil Timnas U-17, Siap TC ke Prancis

Pengukir perempuan, menurut Rumini, masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah anggapan bahwa perempuan tidak mampu mengukir karena pekerjaan tersebut identik dengan laki-laki.

Akan tetapi, dengan kesabaran dan ketelatenan, hasil karya ukir perempuan juga tidak kalah dengan laki-laki.

“Ukir kalau kita mau belajar sungguh-sungguh, hasilnya bisa sama dengan laki-laki, karena itu tergantung skill. Perempuan pun kalau punya kemampuan yang tinggi, ukirannya juga pasti bagus,” katanya.

Mengukir, menurut Rumini, juga bisa menjadi penopang ekonomi keluarga yang dapat dilakukan perempuan tanpa harus meninggalkan pekerjaan rumah.

“(Mengukir) itu pekerjaan yang sangat menjanjikan dan hasilnya juga tidak sedikit. Istimewanya lagi bisa dikerjakan di rumah, sambil momong, sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga kapan pun suami dan anak kita butuh, kita tetap ada di rumah,” ujarnya.

Salah satu peserta mengukir, Adelia Az-Zahra Kusuma (11), siswa kelas 5 SDN 1 Panggang Jepara, bercerita bahwa ia baru tiga kali mencoba praktik mengukir. Meski terbilang baru, ia mengaku senang bisa belajar mengukir.

“Iya (pengen belajar ukir lagi), agak sedikit sulit, tapi seru,” katanya.

Kegiatan perayaan Hari Kartini yang tidak hanya berupa kegiatan seremonial tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto Sipin.

Baginya, perayaan Hari Kartini seharusnya tidak sekadar dimaknai dengan mengenakan pakaian kebaya, tetapi juga merefleksikan pemikiran Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan.

“Kartini lebih dari sekadar kebaya. Pikiran-pikiran Kartini bisa menginspirasi masyarakat Jepara, Indonesia, bahkan dunia, supaya perempuan-perempuan bisa menjadi perempuan yang berdaya, sehingga bisa berkontribusi terhadap ekonomi keluarga dan bangsa,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER