Masuk Prioritas Program Gentengisasi Prabowo, Pengrajin Genteng di Jepara Justru Mulai Langka

BETANEWS.ID, JEPARA– Kabupaten Jepara termasuk salah satu daerah di Jawa Tengah yang rencananya masuk sebagai daerah prioritas pelaksaan program gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo.

Rencana pelaksanaan program tersebut disambut senang oleh pengrajin genteng di kabupaten Jepara. Hal itu mampu membawa angin segar bagi produksi genteng yang sempat terpuruk.

Akan tetapi, sejumlah kendala masih dihadapi oleh pengrajin. Salah satunya yaitu minimnya tenaga kerja untuk memproduksi genteng.

-Advertisement-

Saifudin (51), salah satu pengrajin genteng di Desa Jatisari, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara mengatakan, jumlah pengrajin genteng di desanya yang masih tersisa saat ini hanya sekitar 25 orang.

“Sepuluh tahun lalu jumlah(pengrajin)-nya masih ada sekitar 100 orang,” kata Saefudin pada Betanews.id, Sabtu (18/4/2026).

Saifudin melanjutkan, masyrakat mulai meninggalkan pekerjaan sebagai pengrajin genteng, sebab harganya sering tidak stabil.

Saat ini harga jual genteng yaitu di kisaran Rp1-1,1 juta per seribu biji atau Rp1.000-1.100 per biji. Namun, sekitar lima tahun yang lalu, harganya sempat anjlok menjadi Rp500 per biji.

“Sehingga pengrajin banyak yang pindah pekerjaan. Ternak kerbau, ada yang jadi kuli karena (modal dan harga jual) nggak nutup, untuk biaya produksinya lagi ngga cukup,” ungkap Saifudin.

Baca juga: Harga Kedelai Tembus Rp11.600 per Kg, Pengrajin Tahu di Jepara Kelimpungan 

Tidak hanya itu, persoalan modal juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi pengrajin. Saifudin mengatakan, saat pengrajin kehabisan modal, mereka biasanya meminjam kepada pengepul. Dengan konsekuensi, harga jual yang ditawarkan lebih murah dari harga pasar.

“Kalau ngga ngebon kan kalau ditawar rendah kita tetep ngga mau. Tapi karena ngebon barang tetap dilepas,” ujarnya.

Kendala yang sama terkait semakin minimnya jumlah pengrajin juga turut disampaikan oleh Daryono, salah satu pengrajin genteng asal Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong.

Dari hasil pendataan yang kemarin dilakukan, jumlah pengrajin genteng di Desanya saat ini hanya sekitar 490 pengrajin. Dengan estimasi rata-rata di setiap Rukun Tetangga (RT) memiliki sekitar 10 pengrajin dengan jumlah RT di desanya sebanyak 49 RT.

“Kalau dulu hampir seluruh warga itu pasti bikin genteng,” kata Daryono saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Minimnya jumlah pengrajin genteng, Daryono mengatakan berdampak pada tidak stabilnya harga jual. Disaat permintaan tinggi, namun produksi tidak mencukupi, hal tersebut berdampak pada naiknya harga jual.

Seperti pada momen lebaran Idulfitri kemarin, harga jual genteng sempat menembus Rp1.600 per biji. Namun tidak lama harganya turun menjadi Rp1000 per biji dan saat ini menjadi Rp1.200 per biji.

Sehingga ia berharap, dengan adanya program gentengisasi yang direncanakan menyasar genteng asal Jepara, bisa membuat harga genteng lebih stabil.

“Kalau nanti bisa jalan, harapannya bisa berdampak di harga jual yang lebih stabil, Rp1.500 per biji. Kalau segitu itu pengrajin sudah bisa ambil untung,” katanya.

Selain minimnya jumlah pengrajin, kendala lain yang menurut Daryono saat ini dihadapi oleh pengrajin genteng yaitu sulitnya bahan baku serta pembelian solar untuk bahan bakar alat pencetak genteng. Daryono berharap berbagai kendala tersebut nantinya bisa mendapatkan solusi jika program gentengisasi benar berjalan di Kabupaten Jepara.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER