Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

Seorang perempuan dengan jilbab berwarna hijau tua tampak cekatan memasukkan santan ke dalam gelas. Setelah itu, disusul dengan gula jawa yang sudah dicairkan sebelumnya. Di sela kesibukannya menyiapkan es dawet pesanan, perempuan itu juga menyempatkan diri bercanda ria dengan para pelanggan yang datang.

Perempuan itu ialah Ayuk Atmawati (39), salah satu karyawan Es Dawet Sido Mampir. Perempuan yang akrab disapa Ayuk itu menjelaskan bahwa pemilik usaha Es Dawet Sido Mampir adalah Nur Arif, iparnya. Nur Arif sendiri adalah salah satu alumnus UDINUS yang kini sudah memiliki tiga cabang es dawet juga usaha bengkel.

Es dawet yang letaknya tidak jauh dari Kampus UIN Sunan Kudus ini merupakan cabang ketiganya. Lokasi tepatnya berada di Jl. Conge Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Selain itu, letak Es Dawet Sido Mampir juga tidak jauh dari pabrik Djarum.

-Advertisement-

Baca juga: Diminati Warga Kudus, 2 Kilogram Serabi Asmoro Ludes Setiap Hari

Es Dawet Sido Mampir buka dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Pelanggannya pun cukup beragam. Namun, mayoritas berasal dari mahasiswa, dosen, serta karyawan pabrik. Beberapa dari mereka bahkan sudah menjadi pelanggan tetap Es Dawet Sido Mampir.

“Banyak karyawan pabrik yang mampir ke sini mbak, bahkan kalau mereka bisa pulang pagi kami juga akan tutup lebih awal,” ujar Ayuk saat ditemui beberapa waktu lalu.

Kedai Es Dawet Sido Mampir ini bukan hanya menyediakan es dawet saja. Menu lain selain es dawet yaitu es gempol. Variasinya pun berbeda-beda. Mulai dari es dawet original, es gempol original, es dawet gempol, es gempol dengan tape ketan, juga es dawet tape ketan. Selain itu, terdapat juga menu jajanan lain seperti tape dan aneka gorengan.

Dalam sehari ibu dua anak itu bisa menghabiskan kurang lebih 100 buah kelapa untuk santan. Sedangkan untuk omsetnya sendiri bisa mencapai Rp1.700.000 saat hari Minggu atau saat ramai pelanggan.

Baca juga: Laris Manis, Gultik Mantan Pertama di Kudus Setiap Hari Ludes

“Tapi kalau sepi ya mungkin cuma sekitar Rp800.000 omsetnya. Apalagi waktu musim hujan, omsetnya makin sedikit,” ujar Ayuk.

Menurut penuturan Ayuk, resep yang digunakan untuk membuat Es Dawet Sido Mampir ini adalah resep turun-temurun. Pada awalnya, kedai Es Dawet Sido Mampir berada di Pasar Kliwon. Namun, kurang lebih pada tahun 2020 Es Dawet Sido Mampir berpindah pengelola menjadi Nur Arif. Semenjak itu, Es Dawet Sido Mampir berkembang hingga memiliki tiga cabang. Kabarnya, Nur Arif akan membuka cabang keempat setelah ini.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER