Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan

BETANEWS.ID, KUDUS – Momentum mudik Lebaran Idulfitri 2026 membawa berkah tersendiri bagi para penjual kuliner khas Kudus, Lentog Tanjung. Pusat kuliner yang berada di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, dipadati pelancong dari luar daerah yang ingin mencicipi hidangan legendaris tersebut.

Sejak hari kedua Lebaran, jumlah pembeli disebut mengalami peningkatan signifikan. Para pedagang mulai melayani pelanggan sejak pagi hingga sore hari, menyesuaikan dengan aktivitas silaturahmi para pemudik yang memadati wilayah Tanjungkarang dan sekitarnya.

Salah satu penjual, Karmisih (61), mengaku lonjakan pembeli mulai terasa sejak Sabtu (21/3/2026) atau awal Lebaran. Ia menyebut, mayoritas pelanggan justru berasal dari luar kota, seperti Jepara, Demak, Pati hingga Jakarta.

-Advertisement-

“Kalau Lebaran, yang beli justru banyak dari luar kota. Mereka yang pulang kampung ingin makan lentog, untuk nostalgia,” katanya.

Perempuan yang telah berjualan selama 15 tahun itu mengatakan, dalam sehari ia mampu menjual hingga ratusan porsi, baik dengan tambahan telur maupun tanpa telur. Ia juga dibantu oleh putrinya dalam melayani pembeli yang terus berdatangan.

Menurutnya, momen Lebaran selalu menjadi waktu panen bagi pedagang lentog. Omzet penjualan pun meningkat drastis dibandingkan hari biasa.

Baca juga: Berkat Dorongan Sang Anak, Elok Sukses Buka Gultik Mantan Pertama di Kudus

“Lumayan ramai, jauh lebih banyak dari hari biasa. Soalnya banyak yang memang cari kuliner khas ini,” ungkapnya.

Lentog Tanjung sendiri merupakan makanan berbahan dasar lontong yang disajikan dengan sayur gori (nangka muda) serta lodeh tahu dan tempe. Di tangan Karmisih, satu porsi makanna khas Kudus itu dibanderol dengan harga Rp8 ribu.

Di balik namanya, lentog menyimpan cerita unik yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, dahulu warga Desa Tanjungkarang tidak diperbolehkan berjualan nasi karena dianggap mengganggu oleh seorang wali. Sebagai gantinya, masyarakat kemudian beralih menjual lontong dengan sayur nangka.

“Biar tidak disebut bubur, akhirnya dinamakan lentog. Sampai sekarang tetap dilestarikan,” jelasnya.

Selain cita rasa, ciri khas lain dari Lentog Tanjung adalah penggunaan wakul atau tempat nasi dari anyaman bambu. Dahulu, para penjual memikul wakul sambil berkeliling kampung. Kini, meski banyak yang berjualan di warung, identitas tersebut masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi.

Kehadiran Lentog Tanjung tidak hanya menjadi pelepas rindu bagi para perantau, tetapi juga menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap bertahan dan diminati lintas generasi.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER