Kisah Wiji, Pria Asal Cikarang yang Sukses Berjualan Kue Pancong di Kudus

Sore itu, outlet yang berada di Jalan Pattimura, Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat cukup ramai pembeli. Di balik outlet bertuliskan Kue Pancong Lumer itu tampak seorang pria mengenakan baju kotak-kotak sedang mengoleskan topping sesuai pesanan pembeli. Setelah selesai, ia lantas memberikannya pada pemesan yang telah menunggu.

Ia tak lain adalah Wiji Rokhmat Tris Yulianto (26), seorang perantau asal Kebumen yang kini berjualan kue pancong di Kudus. Siapa sangka, usaha yang kini diminati warga Kudus itu merupakan pengalaman pertamanya dalam berjualan.

Menurut Wiji, perjalanan usahanya bermula ketika ia pindah dari Cikarang, Jawa Barat, ke Kudus karena sang istri melahirkan. Di tengah adaptasi lingkungan baru, ia merasakan kerinduan akan kue pancong lumer yang banyak dijumpai di Cikarang.

-Advertisement-

Baca juga: Varian Melimpah, Kue Pancong Lumer Wiji Tak Pernah Sepi Pembeli

“Di Kudus tidak ada yang jual kue pancong seperti di Cikarang. Akhirnya, saya berpikir untuk mencoba membuka usaha di sini,” jelasnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bermodal resep yang ia pelajari dari berbagai video di YouTube, Wiji memodifikasi hingga menemukan formula yang pas. Ia kemudian memulai usaha kue pancongnya di depan Kelurahan Mlati Kidul pada 2023.

Awalnya, perjalanan Wiji tidak mudah. Minimnya lahan parkir, lokasi yang belum dikenal, dan kendala musim hujan menjadi tantangan besar. Namun, berkat kreativitasnya dalam menawarkan topping yang melimpah dan promosi melalui media sosial, usahanya perlahan dikenal masyarakat.

“Biasanya itu ada pembeli yang datang kesini, terus bilang mas ini boleh saya video? Nah alhasil videonya di upload di tiktok alhamdulillah fyp semua, orang-orang mungkin juga taunya dari tiktok,” bebernya.

Baca juga: Menikmati Sensasi Barramundi Berbumbu Nusantara, Menu Favorit Buka Puasa di Putra Nelayan Pati

Setiap hari, gerai ini mampu menjual 40 hingga 60 porsi kue pancong, bahkan mencapai 100 porsi di akhir pekan. Harga kue pancong buatannya dijual berkisar antara Rp6.000 hingga Rp15.000. Dalam sehari Wiji mengaku mendapatkan omset sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.

“Saya ingin usaha ini terus berkembang. Harapan saya ke depan, bisa membuka banyak cabang supaya orang dari luar desa tidak perlu jauh-jauh datang ke sini,” tambahnya.

Penulis: Vita Verliana, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER