BETANEWS.ID, PATI – Selain tanaman padi, kerugian akibat dampak banjir di Kabupaten Pati juga dirasakan oleh para petani bawang merah. Dinas Pertanian (Dispertan) Pati mencatat, kerugian akibat banjir mencapai kisaran Rp 4,5 miliar.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto menyampaikan, wilayah yang terkena paling parah diketahui ada di Kecamatan Wedarijaksa sebagai salah satu sentra penghasil bawang merah di Pati.
“Sedikitnya lahan bawang merah ada di lima desa yang terkena dampak banjir. Di antaranya Desa Ngurenrejo, Ngurensiti, Bangsalrejo, Sidoharjo dan Pagerharjo. Semuanya di Kecamatan Wedarijaksa,” ujar Ratri, Selasa (3/2/2026).
Baca jugal: 45 Desa di Pati Hingga Kini Masih Terendam Banjir
Dia menyebut, total ada 66 hektare lahan yang terdampak dan mengalami puso. Rata-rata telah berusia antara 20 hingga 54 hari. Jenisnya yakni Bauji dan Tajuk. Sehingga kerugian yang ditimbulkan cukup besar.
“Kalau diperkirakan kerugian bisa mencapai Rp 5,4 miliar dari lahan bawang merah saja,” imbuhnya.
Terkait hal itu, Pemerintah Kabupaten Pati telah berkoordinasi sehingga untuk bawang merah yang bisa dipanen di awal dapat diserap dapur makanan bergizi gratis (MBG). Langkah itu diharapkan dapat membantu para petani bawang merah.
Sebelumnya, para petani di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati memang terpaksa harus memanen lebih awal tanaman bawang merah mereka pada pertengahan Januari lalu. Langkah itu terpaksa dilakukan lantaran lahan mereka terendam banjir.
Baca juga: Banjir Rendam Lahan Pertanian, Petani di Pati Rugi Ratusan Miliar Rupiah
Para petani bahkan harus berkejaran dengan waktu agar bawang merah yang mereka tanam dengan susah payah setelah kebanjiran. Para petani itu juga tak segan menerjang banjir setinggi 1,5 meter untuk bisa memanen tanaman bawang merahnya.
Selain hasilnya belum maksimal, para petani juga terpaksa merogoh gocek tambahan untuk memanen secara darurat tersebut. Hal itu yang membuat para petani merugi cukup besar. Lantaran harga jual menurun, namun biaya operasional bertambah.
Editor: Suwoko

