22 Hektare Sawah di Pesisir Jepara Jadi Lahan Uji Coba Padi Biosalin 

BETANEWS.ID, JEPARA – Lahan pertanian yang berada di kawasan pesisir Kabupaten Jepara sampai saat ini masih menghadapi masalah serius, berupa pasang surut air laut yang membuat tanaman padi gagal tumbuh. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara, Mundhofir mengatakan sebagai upaya mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pertamina Gas Negara (PGN) mengembangkan varietas padi berjenis biosalin 1 dan 2. 

Baca Juga: Tahun 2026, Kajari Jepara Ingatkan Pemkab Waspadai Penyimpangan Beragama hingga Narkoba 

-Advertisement-

Padi Biosalin merupakan varietas padi yang bisa tumbuh di lahan dengan kadar garam atau salinitas tinggi.  

Di Kabupaten Jepara, Mundhofir menyebutkan terdapat tiga wilayah yang menjadi lokasi uji coba penanaman padi Biosalin. Yaitu di Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo, Desa Bandungharjo Kecamatan Donorojo, dan Desa Kemujan Kecamatan Karimunjawa. 

Penanaman itu dilakukan dengan menggandeng Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di masing-masing desa tersebut. 

“Luasnya total 22 hektare. Di Suwawal dan Bandungharjo masing-masing 10 hektare, dan di Kemujan 2 hektare,” sebut Mundhofir pada Betanews.id, Jumat (2/1/2026). 

Karena dalam tahap uji coba, Mundhofir menjelaskan terdapat tiga jenis perlakuan yang diterapkan pada padi jenis biosalin yang sedang ditanam. 

Pertama, padi biosalin ditanam dengan jenis pupuk biasa di lahan seluas lima hektare. Kedua, padi biosalin ditanam dengan jenis pupuk biasa namun dosis takarannya menyesuaikan dengan takaran dari BRIN di lahan seluas tiga hektare. Ketiga, padi biosalin ditanam dengan jenis Pupuk TSN di lahan seluas dua hektare. 

“Tujuan untuk memperoleh hasil yang tertinggi dan perlakuan yang paling menghasilkan, itu nanti yang akan diterapkan ke petani,” jelasnya. 

Selain membuat perlakuan khusus, masing-masing Gapoktan menurut Mundhofir juga diminta untuk menyediakan lahan sebagai demplot atau tempat pembenihan. 

“Untuk kemandirian dan keberlanjutan, karena bibitnya ini masih langka, petani juga kita arahkan untuk menyediakan lahan demplot,” tambahnya. 

Dari hasil percobaan di daerah lainnya, Mundhofir menyebutkan potensi hasil gabah dari padi jenis biosalin yaitu sebanyak 9,2 ton per hektare. 

Kemudian secara kualitas dan rasa, varietas padi jenis tersebut menurutnya sama seperti varietas padi jenis lainnya.  

Baca Juga: Pantai Bandengan Jepara Dipadati Ribuan Pengunjung di Momen Tahun Baru 2026

“Kualitasnya sama, kalau padi biosalin jenis 1 itu nasinya lebih pero atau tidak lengket. Kalau yang jenis 2 itu nasinya lebih pulen,” jelas Mundhofir. 

Mundhofir berharap uji coba tersebut bisa berjalan dengan baik, sehingga bisa menjadi solusi bagi petani di daerah pesisir yang lahannya sering terkena dampak pasang surut gelombang air laut.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER