BETANEWS.ID, KUDUS – Di Kudus, ketika jajanan modern terus bermunculan, kue bikang tetap bertahan sebagai primadona pasar. Ambar, perempuan 64 tahun, menjadi salah satu penjaga setia tradisi itu.
Dari lapak sederhana di Desa Mlati Lor, ia menjajakan bikang cungkel yang harum dan lembut, seolah menolak kalah oleh tren kekinian.
Baca Juga: Murah Meriah, Getuk Crispy Lumer Jadi Incaran Peziarah Menara Kudus
Menjelang sore, aroma manis bikang mulai mengundang pembeli. Sejak pukul 16.00 hingga malam, lapak Ambar tak pernah sepi. Dengan harga Rp2.500 per potong, jajanan ini menjadi pilihan terjangkau bagi siapa saja—anak-anak, orang tua, hingga mereka yang sekadar singgah mencari rasa masa kecil.
Ambar menawarkan lima varian rasa, yaitu vanila, stroberi, melon, nanas, dan cokelat. Dari semua pilihan, cokelat selalu jadi primadona.
Setiap hari ia menyiapkan adonan sekitar tiga kilo, dengan bahan sederhana, yakni tepung terigu, tepung beras, tepung tapioka, dan kelapa. Kesederhanaan itu justru melahirkan cita rasa yang tak lekang oleh waktu.
Baca Juga: Siomay Cap Kingkong, Lapak Malam yang Tak Pernah Sepi di GOR Kudus
Bagi Ambar, berjualan bikang bukan sekadar mencari penghasilan. Ia merasa sedang menjaga warisan kuliner Jawa agar tidak tergeser zaman.
Dengan senyum tenang, ia berharap usahanya tetap berjalan, rezeki tetap lancar, dan kue bikang terus hadir sebagai pengingat bahwa tradisi punya tempat di hati penikmatnya.
Penulis: Nania Rizka Apriliyani, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Haikal Rosyada

