BETANEWS.ID, KUDUS – Gedung Kawasan PKL Colo yang berada tak jauh dari Terminal Colo mangkrak selama bertahun-tahun. Menurut pedagang di sana, mangkraknya bangunan karena lesunya pengunjung itu telah terjadi sejak 2018 lalu.
Tampak ratusan kios yang dibangun dengan anggaran lebih dari Rp20 miliar itu terbengkalai dan sudah ditinggal oleh pedagang. Terlihat hanya ada enam pedagang di lantai tiga yang masih bertahan, meski secara pendapatan tak cukup untuk membayar sewa kios tersebut.
Baca Juga: Penyamarataan Masa Tunggu Haji 26 Tahun, Kuota Haji Kudus 2026 Diprediksi Bertambah
Ketua Paguyuban Pemilik Kios dan Warung Terminal Colo, Abdul Rohman mengatakan, setidaknya terdapat 150 kios, terdiri dari 120 kios berada di lantai dua dan 30 kios di lantai tiga, banyak ditinggal oleh pedagang. Hal itu dikarenakan tak adanya pengunjung yang lewat melalui akses kawasan tersebut.
“Hanya ada enam kios saja yang masih bertahan di sini. Itupun karena mereka tidak tahu harus melakukan pekerjaan apa lagi,” bebernya saat ditemui di lokasi, Rabu (19/11/2025).
Rohman menyebut, total anggaran pembangunan kawasan PKL Colo yang dibangun pada 2017 silam itu mencapai Rp23 miliar. Namun dalam perjalanannya, upaya pembenahan wisata Colo yang dimulai pada era Bupati Tamzil tidak berlanjut hingga sekarang. Akibatnya, sebagian besar fasilitas justru terbengkalai.
“Di lantai tiga ada 30 kios mangkrak, sementara di bawah terdapat 120 kios. Dari yang di lantai tiga, hanya enam pedagang yang masih bertahan. Lantai dua malah sudah tidak ada pedagang sama sekali,” jelasnya.
Dia menambahkan, para pedagang juga mendengar adanya wacana pengelolaan oleh pihak ketiga, namun hingga kini belum ada kejelasan. Meskipun demikian, mereka tetap berharap kawasan ini dapat ditata ulang dengan konsep yang tepat.
“Sebenanrnya kami setuju dengan rencana pelebaran area parkir yang digagas oleh Bupati Tamzil saat itu. Kalau parkir bus bisa menampung lebih dari 50 bus, kawasan ini bisa jadi transit keluar-masuk wisatawan. Pedagang bisa hidup kembali. Sayangnya rencana itu tidak terealisasi hingga kini,” tegasnya.
Di tengah mangkraknya gedung, dia menyayangkan adanya pembangunan kios baru di sekitar gedung tersebut. Sebab menurutnya, pihak pedagang tak diajak diskusi tentang pembangunan kios.
“Tahu-tahu ada sosialisasi, bahwa ada pembangunan kios untuk pedagang, termasuk saya. Mau gak mau harus menempati, karena memang diperuntukan bagi anggota paguyuban di sini,” tuturnya.
Ia menjelaskan, kios baru yang berukuran 3 X 2,75 meter itu, terdapat 70 kios yang sudah ditempati oleh para pedagang. Saat ini pemerintah membangun rehabilitasi kios tambahan sekitar 20 kios baru dengan anggaran Rp1,03 miliar.
Sementara itu, Sumarlan, salah satu yang masih bertahan di Gedung Kawasan PKL Colo merasakan dampak kemerosotan pendapatan. Ia bercerita bahwa kawasan tersebut pernah sangat ramai pada akhir 1990-an, jauh sebelum pembangunan gedung terminal PKL.
“Dulu sebelum tahun 2000 itu ramai sekali. Tapi setelah ada pembangunan gedung terminal dan gedung kawasan PKL Colo, pengunjung malah mulai menurun sampai sekarang,” tuturnya.
Setelah bangunan terminal selesai, para pedagang sempat menempati kios baru selama sekitar dua bulan. Namun, kondisi langsung merosot karena pengunjung tidak masuk ke area tersebut.
“Konsepnya salah. Bangunan sudah jadi, tapi jalur kunjungan tidak diarahkan ke sini. Akhirnya dampaknya ke kita,” keluhnya.
Terpisah, Sekertaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Agus Susanto menjelaskan, bahwa pihaknya merevitalisasi kios di kawasan terminal sebanyak 20 unit. Hal itu dilakukan mulai 13 Oktober 2025 dengan anggaran Rp1,03 miliar.
“Realisasi pelaksanaan 28,47 persen, dari rencana di pekan ini 26,87 persen. Jadi ada deviasi sebesar +1,61 persen. Target pelaksanaan 75 hari,” sebutnya.
Baca Juga: Puluhan Rumah di Mejobo Kudus Rusak Diterjang Puting Beliung
Menengai minimnya sosialisasi yang dikeluhkan pedagang, pihaknya mengaku telah memanggil para pedang dua kali dalam rencana pembangunan kios di kawasan terminal.
“Kalau ada yang bilang tidak ada sosialisasi sebelumnya berarti dia tidak datang, karena saya sudah memanggil dua kali untuk mendiskusikan terkait pembangunan kios,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

