31 C
Kudus
Senin, Februari 16, 2026

Lima Sosok Inspiratif Raih Penghargaan Tokoh Santri Pati 2025

BETANEWS.ID, PATI – Lima tokoh dari kalangan santri yang memiliki kiprah dan jasa besar bagi umat dan bangsa menerima penganugerahan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, Kamis (31/10/2025) malam.

Penganugerahan sebagai tokoh santri tersebut dilakukan dalam acara Malam Tasyakuran Hari Santri 2025 di halaman kantor Sekretariat Daerah (Setda) Pati.

Baca Juga: Polresta Pati Tangkap 4 Pentolan Masyarakat Pati Bersatu

-Advertisement-

Kelima tokoh tersebut, yakni Mbah Abbas, H Saryani, KH Hasbullah, Nyai Hj Dra Nafisah Sahal, dan Drs H Achamd. Secara berurutan mereka menerima anugerah sebagai Tokoh Santri untuk kategori santri pejuang, santri pengusaha, santri pendidik, santri pemberdaya perempuan, dan santri birokrat.

Mbah Abbas merupakan sosok santri sekaligus pejuang dari Desa Talun, Kecamatan Kayen. Semasa penjajahan Belanda dia menjabat sebagai kepala desa. Namun, Mbah Abbas memiliki jalan perlawanan dan enggan tunduk kepada penjajah.

Bersama santri pejuang lainnya, seperti Mbah Mahfudh dan Gus Hasyim Kajen, Mbah Abbas membentuk jaringan perlawanan untuk melumpuhkan kekuasaan Belanda di wilayah Pati. Namun, setelah Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada 19 Maret 1949 Mbah Abbas gugur dengan penuh heroik, setelah mengalami siksaan fisik sangat berat karena diyakini memiliki ilmu kebal terhadap berbagai senjata.

Adapun H Saryani adalah sosok santri pengusaha yang lahir, hidup, dan wafat di kampung nelayan Desa Bendar, Kecamatan Juwana. Dia lahir pada 15 Nopember 1933 dan wafat 22 Juni 2021.

Sejak muda,  beliau dikenal sebagai pekerja keras, merintis usaha dari nol hingga memiliki banyak kapal dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Di balik kesuksesannya, Saryani dikenal dermawan dan peduli. Jejak kebaikannya masih terasa hingga kini, di antaranya melalui RSI Pati dan berbagai amal jariyah lainnya.

Sedangkan KH Hasbullah merupakan ulama asal Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, yang lahir sekitar tahun 1888 dan wafat pada 1972. Di masa ketika masyarakat masih kuat dengan tradisi kejawen, dia berjuang menyalakan cahaya ilmu dan agama Islam di ujung utara Pati.

Setelah menimba ilmu dari pesantren ke pesantren di Jawa hingga Madura KH Hasbullah kembali ke tanah kelahirannya dan mendirikan surau, madrasah, pondok pesantren, serta Masjid Sabilal Huda yang menjadi pusat pendidikan Islam bagi masyarakat sekitar.

Tokoh selanjutnya, Nyai Nafisah merupakan perempuan pesantren yang melampuai zamannya. Lahir di Jombang pada 8 Feb 1946. Dia merupakan putri dari pasangan KH Abdul Fatah Hasyim dan Nyai Hj Musyarofah Bisri.

Masa ketika akses Pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas beliau menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai pendiri Pesantren Putri Al Badi’iyyah Kajen, Nyai Nafiash mendedikasikan hidupnya bagi Pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Kemudian H Achmad merupakan putra kelahiran Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Pati. Dia lahir pada 17 Agustus 1935 dan wafat 23 Mei 2023. H Achmad adalah seorang santri intelektual yang menapaki jalan panjang birokrasi tanpa pernah meninggalkan nilai-nilai kesantrian dan pengabdian kepada masyarakat.

Selepas menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, dia turut mendirikan Fakultas Ekonomi di Purwokerto yang kini menjadi Universitas Jenderal Soedirman. Dalam usia muda, beliau dipercaya menjadi Bupati Magelang selama dua periode, kemudian berkiprah di pemerintahan pusat dan provinsi hingga menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah. Di NU, Drs H Achmad menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah selama dua periode berturut-turut.

Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim mengemukakan, penganugerahan tokoh santri menjadi tradisi pihaknya setiap peringatan Hari Santri. Itu sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian tokoh tersebut kepada umat, bangsa, dan negara.

Baca Juga: Mayoritas Anggota Dewan Tidak Setuju Sudewo Dimakzulkan, Ali Badrudin : ‘Tak Perlu ke MA’

“Kabupaten Pati menyimpan banyak tokoh santri yang layak dan patut dihargai serta diteladani perjuangannya. Tidak hanya pejuang lokal, tetapi juga nasional. Itu membuktikan jika santri berperan besar dalam perjuangan bangsa sejak penjajahan hingga saat ini,” ujarnya.

Dalam Malam Tasyakuran Hari Santri, Bupati Pati Sudewo yang juga hadir menyampaikan pihaknya telah menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) Pati tentang Pesantren. Puncak acara tersebut dirangkai lantunan salawat.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER