Padureksan, Gapura Masjid Wali Jepang yang Dibuat Sunan Kudus dan Filosofinya

BETANEWS.ID, KUDUS – Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur atau Masijd Wali Jepang, yang terdapat di Desa Jepang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, banyak bagiannya terbuat dari material kayu jati. Tiang, plafon serta gebyoknya semua bernuansa kayu jati yang masih natural. Di depan masjid, terdapat gapura yang pintunya pun berbahan kayu jati lawas. Gapura Masjid Wali Jepang itu bernama Padureksan.

Gapura yang terbuat dari bata merah setinggi empat meter itu dibuat sendiri oleh Kanjeng Sunan Kudus. Arsitektur gapura berbentuk tempat sembahyang umat Hindu – Budha. Hal itu agar menarik minat masyarakat sekitar, sehingga mau memeluk Islam. Karena memang sebelumnya masyarakat Kudus masih banyak yang beragama Hindu dan Budha.

Sumur yang berada di Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur atau Masijd Wali Jepang. Foto : Rabu Sipan

“Sunan Kudus dalam penyebaran agama Islam memang memanfaatkan simbol – simbol agama Hindu – Budha. Agar Islam yang diajarkannya tidak jadi pertentangan. Beliau ingin mengajarkan bahwa Islam itu indah dan Islam itu untuk seluruh alam,” ujar Muhamad Ridwan (69), Nadzir Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur.

-Advertisement-

Baca juga : Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

Nama gapura masjid lanjutnya, juga pemberian dari Sunan Kudus. Gapura tersebut diberi nama Padureksan. Dengan nama tersebut, Sunan Kudus menyelipkan pesan agar manusia itu jangan bertengkar (padu) dan rasan – rasan. Maksutnya itu menggunjing orang lain.

Pria yang dikaruniai tiga anak itu mengatakan, Gapura Padureksan bentuknya itu masih asli dari peninggalan Sunan Kudus. Pintunya juga terbuat dari kayu jati lawas, serta tidak menggunakan engsel besi.

“Gapura ini bentuknya masih asli dari dulu hingga sekarang. Di Masjid Wali Jepang ini memang ada beberapa bagian yang memang tidak boleh dipugar oleh pemerintah. Karena sebagai cagar budaya,” papar pria yang akrab disapa Mbah Wan sembari mengajak tim betanews.id masuk ke ruang utama masjid.

Di ruang utama masjid, Mbah Wan menunjukan tiang saka empat penyangga atap masjid. Tiang atau saka empat itu juga masih aslinya dan tidak boleh diganti.

Dua saka di sebelah timur terbuat dari kayu sukun dan kayu nangka. Sedangkan dua saka sebelah barat, semuanya dari kayu jati.

Menurutnya, empat tiang yang terbuat dari kayu berbeda itu juga ada filosofinya. “Sukun kalau huruf Arab itukan mati. Jadi orang yang akan masuk masjid harus mati. Maksutnya itu mematikan nafsunya, minongko (nangka) hamba sejati (jati). Hamba sejati yang bertaqwa kepada Allah. agar kelak bila meninggal husnul khotimah,” ungkapnya.

Kemudian dia menunjukan pengimaman dan mimbar khutbah yang juga masih dijaga keasliannya. Tak lupa Mbah Wan menunjukan prasasti penyempurnaan masjid oleh Sayyid Ali Alaydrus pada tahun 1336 H.

Setelah itu, dia berjalan ke utara dan menunjukan sumur bata berbentuk bulat, lengkap dengan timba kayu. Sumur tersebut masih ada sumber airnya dan keberadaannya di dalam masjid serta dipagar kayu keliling.

Baca juga : 6 Bagian Masjid Jami’ Nganguk Wali yang Dipertahankan Hingga Sekarang, Ini Filosofinya

“Inilah sumur wali peninggalan Sunan Kudus. Masih ada mata airnya sampai sekarang,” jelasnya.

Kemudian Mbah Wan keluar menuju sebelah barat masjid. Di situ terlihat beberapa makam dengan nisan peninggalan abad 16. Di antara makam tersebut, dia menunjuk ke atap dan mustaka masjid.

Menurutnya, atap utama masjid masih berupa tajug bertingkat tiga. Mustaka juga masih asli terbuat dari tanah. Serta di atas mustaka terdapat panah. “Panah itu terkadang berubah arah sendiri. Kayak ada menggerakkan,” tutu Mbah Wan.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER